Kamis, 17 Juni 2010

Modul Hijauan Makanan Ternak

MODUL USAHA TEKNOLOGI
PRODUKSI HIJAUAN MAKANAN TERNAK
DAN INDUSTRI PAKAN TERNAK

SEMESTER I DAN II


















OLEH :
NIDAUL KHUSNA, S.Pt





PROGRAM STUDI PETERNAKAN RUMINANSIA
SMK SPP NEGERI PLOSOKLATEN KEDIRI
2010


USAHA TEKNOLOGI PRODUKSI HIJAUAN MAKANAN TERNAK
DAN INDUSTRI PAKAN TERNAK

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR
Program studi : Peternakan
Program diklat : Produktif
Mata pelajaran : Usaha teknologi produksi HMT dan IPT
Latar belakang : Pakan ternak menempati kebutuhan 60-70% dari seluruh biaya produksi peternakan. HMT secara nasional merupakan komoditas sampingan dan berada pada lahan kelas 2 hingga kelas 3 dengan tingkat kesuburan yang relatif rendah. Tanaman HMT sangat responsive terhadap musim, dimana pada musim kemarau selalu terjadi paceklik hijauan yang pada akhirnya menyebabkan kemerosotan tubuh ternak dan kualitas daging. Permasalahan ini juga dialami oleh industry pakan ternak (IPT) yang menggunakan bahan pangan. Sehingga akan terjadi fluktuasi harga pakan ternak.
Tujuan : Mengembangkan wawasan siswa terhadap pentingnya pakan dalam usaha peternakan :
1. Mengetahui jenis-jenis pakan ternak dan kandungan gizinya
2. Mampu melakukan analisis kebutuhan pakan pada ternak
3. Mampu mengembangkan HMT dan pasture
4. Mampu menyusun dan mencampur ransum ekonomis
5. Mampu menerapkan teknologi pakan
6. Dapat menghitung biaya produksi pakan.
Ruang lingkup : 1. Bahan pakan ternak
2. Hijauan makanan ternak
3. Sistem penggembalaan ternak
4. Teknologi Pakan ternak
5. Analisa biaya pengolahan pakan
Batasan istilah :
1. Bahan pakan ternak : komponen penyusun ransum baik secara mandiri maupun bersama-sama ditinjau dari kualitas dan kuantitas yang dapat diberikan ke ternak tanpa mengganggu kesehatan sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia.
2. Nutrisi/nutrient : kandungan yang terdapat dari suatu zat dalam bentuk protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang berfungsi untuk metabolisme tubuh
3. Bahan kering : komponen dari bahan tanpa atau sedikit kandungan air
4. Protein kasar : suatu senyawa yang mengandung nitrogen
5. Palatabilitas : merupakan bentuk fisik pakan yang meliputi bentuk, warna, bau dan rasa yang menimbulkan daya terik atau selera sehingga mampu meningkatkan konsumsi pakan
6. Bulky : volume pakan yang besar namun kandungan nutrisinya rendah
7. xanthopil : pigmen kuning
8. daya cerna : kemampuan pakan dicerna dalam pencernaan ternak dan dimanfaatkan oleh tubuh ternak
9. anti nutrisi : suatu zat yang dapat menghambat penyerapan zat makanan oleh tubuh ternak
10. bungkil : sisa dari pengolahan biji-bijian yang diambil minyaknya atau sarinya baik secara mekanik maupun manual

IDENTIFIKASI BAHAN PAKAN TERNAK

1. Standar Kompetensi : Siswa mampu Mengidentifikasi bahan pakan ternak beserta kualitas bahan pakan ternak berdasarkan kandungan nutrisinya.

2. Kompetensi Dasar :
a. Mengetahui kualifikasi pakan ternak
b. Identifikasi pakan ternak asal hijauan
c. Identifikasi pakan ternak asal limbah pertanian
d. Identifikasi pakan ternak asal pertanian tanaman pangan
e. Identifikasi pakan ternak asal hasil ikutan pabrik penggilingan biji-bijian
f. Identifikasi pakan ternak asal limbah pabrik
g. Identifikasi pakan jadi
h. Identifikasi bahan pakan ternak asal hewan
i. Identifikasi awetan hijauan dan olahan jerami
j. Identifikasi pakan tambahan

Kualifikasi Pakan Ternak
Pakan Ternak merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam usaha peternakan karena 70 % dari total biaya pemeliharaan ternak berasal dari pakan. Dari berbagai jenis bahan pakan dengan variasi kualitasnya yang cukup besar maka perlu pengetahuan dan pemahaman serta ketrampilan mengevaluasi bahan pakan untuk menyusun ransum ternak yanng seimbang dan serasi sesuai dengan komoditi ternak, tujuan, keadaan dan fase pemeliharaan serta tingkat produksi. Sebagai contoh ternak muda dan ternak dewasa akan membutuhkan asupan nutrisi yang berbeda karena ternak muda merupakan masa pertumbuhan yang membutuhkan kualitas nutrisi lebih baik daripada ternak dewasa demikian pula bahan pakan untuk komoditi ternak ruminansia akan berbeda dengan ternak non ruminansia. Oleh karena itu kualifikasi atau kriteria dari tiap jenis pakan perlu dipelajari sehingga akan memudahkan dalam proses pembuatan pakan ternak.
Sebenarnya bahan pakan yang dikonsumsi ternak tergantung pada komponen penyusun bahan pakan ternak itu sendiri. Sehingga kualitas pakan ditentukan oleh kandungan nutrisi bahan pakan, Seperti bahan pakan asal limbah cenderung mengandung nutrisi yang lebih rendah daripada pakan biji-bijian. Secara umum komponen penyusun bahan pakan dapat digambarkan sebagai berikut:

Air Karbohidrat
Lemak
Bahan Protein
Makanan Bahan organik vitamin
Ternak Bahan kering
Bahan an organik mineral
Berbagai bahan pakan ternak telah dikenal dan dipergunakan sebagai bahan penyusun ransum untuk memenuhi kebutuhan ternak terhadap nutrisi pakan yang dipergunakan untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan, aktifitas, reproduksi maupun produksi ternak seperti yang diharapkan. Bahan pakan ternak dapat dikualifikasikan berdasarkan asal bahan, karakteristik fisik, kimia, maupun penggunaannya. Berikut kualifikasi bahan pakan ternak berdasarkan asalnya:
1. Pakan Ternak Asal Hijauan
2. Pakan Ternak Asal Limbah Pertanian
3. Pakan Ternak Asal Pertanian Tanaman Pangan
4. Pakan Ternak Asal Hasil Ikutan Pabrik Penggilingan Biji-bijian
5. Pakan Ternak Asal Limbah Pabrik
6. Pakan Jadi
7. Pakan Ternak Asal Hewan
8. Awetan Hijauan dan Olahan Jerami
9. Pakan Tambahan

a. Identifikasi Pakan Ternak Asal Hijauan
Hijauan pakan ternak adalah bahan pakan asal tanaman dalam keadaan segar, kering atau yang diawetkan yang digunakan sebagai pakan ternak tanpa mengganggu kesehatan ternak. Karakteristik pakan asal hijauan :
1) Bersifat bulky
2) Serat kasar tinggi > 18 % sehingga daya cerna rendah
3) Energi rendah bila dibandingkan pakan penguat
4) Mineral kalsium dan potassium serta trace mineral tinggi tetapi rendah fosfor
5) Vitamin larut lemak tinggi terutama pada leguminosa
6) Protein leguminosa 20 % dan rumput 12 %

Rumput dan Leguminosa
Hijauan pakan ternak dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu rumput dan leguminosa. Karakteristik rumput secara umum memiliki batang dengan daun-daun dan bulir yang disebut tangkai. Bentuk seperti silinder, umumnya kosong kecuali pada buku-buku yang terdiri dari jaringan padat. Pada bagian tangkai yang kosong antara dua buku terdapat ruas. Pada bagian akar membentuk serabut. Bunga majemuk tumbuh di ujung batang membentuk malai.
Sistematika rumput :
Phylum : Spermatophyta
Sub phylum : Angiospermae
Classis : Monocotyledoneae
Ordo : Glumifora
Familia : Gramineae
Sub familia : Panicoideae
Leguminosa adalah hijauan yang mampu mengikat nitrogen dari udara. Kemampuan mengikat nitrogen tersebut menyebabkan kandungan protein leguminosa lebih tinggi daripada rumput.
Sistematika leguminosa :
Phylum : Spermatophytka
Sub phylum : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Sub ordo : Rosinae
Familia : Leguminosaeae


Gambar 1. kaliandra dan rumput gajah
Tabel 1. kandungan nutrisi beberapa hijauan pakan ternak
No Bahan Pakan Kandungan nutrisi (%)
Protein kasar Serat kasar TDN
1 Rumput Grinting /Cynodon dactylon 12.60 30.90 -
2 Gamal/Gliricidia sepium 25.70 13.30
3 Alang-alang/ Imperata cylindrica 12.20 35.70 42.00
4 Lamtoro/ Leucaena glauca 23.70 18.00 -

Lembar Kerja I
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis

b. Bahan-bahan
1. Macam-macam rumput
2. Macam-macam leguminosa
c. Langkah Kerja
1. Mencari 5 jenis rumput di lahan HMT
2. Mencari 5 jenis leguminosa di lahan HMT
3. Lakukan pengamatan dengan cara melihat bentuknya (batang, daun, akar,bunga, biji, tempat hidup)
4. Mengidentifikasi jenis rumput dan legum yang ada dan mencari nama latin dan negara asalnya
5. Buat laporan hasil pengamatan pada berbagai rumput dan leguminosa yang telah diamati pada saat praktikum

d. Lembar Latihan
1. Siswa membawa rumput atau leguminosa
2. Siswa mengidentifikasi rumput atau leguminosa
3. Siswa menyebutkan nama daerah, nama latin, asal, dan kandungan nutrisi dari rumput dan leguminosa
4. Siswa menyimpulkan klasifikasi rumput dan leguminosa berdasarkan bentuk, tempat hidup, asal, dan kegunaannya

b. Identifikasi Pakan Ternak Asal Limbah Pertanian
Pakan ternak asal limbah pertanian merupakan sisa-sisa tanaman pertanian yang tidak dimanfaatkan oleh manusia biasanya berupa batang dan daun. Pakan asal limbah pertanian ini disebut sebagai jerami yang memiliki kandungan nutrisi rendah karena dipanen umur tua yang mengandung serat kasar tinggi sehingga sulit dicerna oleh ternak.
Pakan ternak asal limbah pertanian dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu foder dan stover. Fodder merupakan bagian dari tanaman jagung atau shorgum yang meliputi batang dan daun, sedangkan stover adalah bagian aerial tanpa biji jagung dan shorgum. Keduanya memiliki kandungan nutrisi yang rendah karena serat kasar tinggi tetapi merupakan pakan yang potensial karena jumlahnya yang melimpah terutama saat panen raya.
Kualitas nutrisi rendah pada limbah pertanian biasanya dipengaruhi oleh faktor tanah, pemupukan, topografi dan iklim. Kandungan nutrisi yang rendah tersebut dapat dioptimalkan dengan suplementasi bahan lain yang serasi sehingga dapat digunakan secara efisien untuk tujuan pemelliharaan ternak
Tabel 2. Kandungan nutrisi limbah pertanian
No Bahan Pakan Kandungan nutrisi (%)
Protein kasar Serat kasar TDN
1 Jerami padi 3.70 35.9 43.1
2 Pucuk tebu 5.60 32.4 54.0
3 Jerami kacang kedelei 11.1 29.9 43.1
Lembar Kerja II
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis
b. Bahan-bahan
1. jerami padi
2. Jerami kedele
3. Pucuk tebu
c. Langkah Kerja
1. Mengamati beberapa jerami dengan cara melihat bentuknya (tekstur, warna dan ciri khas dari masing-masing jerami)
2. Mengidentifikasi jenis jerami yang ada dan mencari nama latin dan negara asalnya
3. Buat laporan hasil pengamatan pada berbagai rumput dan leguminosa yang telah diamati pada saat praktikum
d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi beberapa jerami
3. Siswa menyebutkan nama daerah, nama latin, asal, dan kandungan nutrisi dari jerami
4. Siswa menyimpulkan kualitas dari beberapa jerami


c. Identifikasi Pakan Ternak Asal Pertanian Tanaman Pangan
Pakan ternak asal pertanian tanaman pangan pada umumnya ketersediaannya bersaing dengan kebutuhan manusia sehingga harganya fluktuatif.
Jagung
Salah satu pakan ternak asal tanaman pangan adalah jagung. Jagung banyak digunakan sebagai bahan makanan sumber energi terutama untuk ransum unggas. Jagung mengandung energi metabolis yang cukup tinggi , tetapi rendah asam amino lisin dan triptophan. Selain itu jagung kuning mengandung xantophil yang dapat mempengaruhi warna produk unggas. Kualitas jagung yang digunakan tergantung pada varietas, penanaman dan pengolahan pasca panen.
Shorgum
Shorgum dapat digunakan sebagai pengganti jagung karena memiliki kandungan nutrisi yang sama dengan jagung dan tahan kekeringan. Kandungan seratnya yang rendah sehingga mudah dicerna ternak, tetapi kandungan lemak dan kalsium lebih rendah dan tidak mengandung vitamin D. Penggunaan shorgum untuk pakan lebih baik disertai bahan pakan sumber protein yang berkualitas baik karena untuk mengimbangi kekurangan asam amino lisin dan treonin.
Gandum
Gandum merupakan bahan pakan sumber energi yang kaya fosfor tetapi rendah kalsium dan riboflavin. Tidak mengandung vitamin A tetapi kaya niasin dan tiamin. Gandum sangat mudah dicerna sehingga penggunaannya pada ternak ruminansia perlu diperhatikan karena penggunaan berlebihan dapat menyebabkan acidosis.
Tabel 3. kandungan nutrisi bebrapa bahan pakan asal tanmanan pangan
No Bahan Pakan Kandungan nutrisi (%)
Protein kasar Serat kasar TDN
1 Jagung 8.90 2.20 69.0
2 Sorgum 9.60 2.40 69.0
3 Gandum 11.7 3.00 68.0

Lembar Kerja III
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis

b. Bahan-bahan
1. jagung
2. Shorgum
3. Gandum

c. Langkah Kerja
1. Mengamati jagung, gandum dan shorgum dengan cara melihat bagian bijinya (tekstur, warna dan ciri khas dari masing-masing biji)
2. Mengidentifikasi macam biji yang ada dan mencari nama latin dan kandungan nutrisinya
3. Buat laporan hasil pengamatan pada berbagai biji yang telah diamati pada saat praktikum

d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi jagung, gandum dan shorgum
3. Siswa menyebutkan nama daerah, nama latin, asal, dan kandungan nutrisi dari biji-bijian tersebut
4. Siswa menyimpulkan kualitas dari jagung, gandum dan shorgum


d. Identifikasi Pakan Ternak Asal Hasil Ikutan Pabrik Penggilingan Biji-bijian
Hasil Ikutan Penggilingan Padi
Pakan ternak asal hasil ikutan pabrik penggilingan biji-bijian biasanya berupa sekam, dedak kasar, dedak halus dan bekatul. Sekam merupakan kulit terluar dari biji padi, teksturnya yang keras merupakan susunan serat kasar yang tinggi sehingga daya cerna rendah namun kandungan vitamin B12 cukup tinggi. Dedak kasar merupakan hasil penumbukan atau penggilingan yang pertama yang terdiri dari pecahan sekam dan kandungan nutrisi yang rendah. Dedak halus (lunteh) merupakan bagian yang terdiri atas selaput beras perpaduan antara dinding buah dan dinding biji serta pecahan-pecahan lembaga dan kulit gabah. Dedak halus mengandung vitamin dan niasin yang tinggi tetapi mudah tengik karena kandungan lemaknya yang cukup tinggi. Bekatul merupakan hasil samping dari penggilingan yang terakhir berupa bagian endosperm, selaput lembaga dan tidak mengandung kulit gabah dan mudah sekali tengik karena kandungan lemak yang sangat tinggi.

Hasil Ikutan Penggilingan Jagung
Selain hasil penggilingan padi hasil ikutan penggilingan jagung dapat digunakan sebagai bahan pakan berupa dedak jagung. Dedak jagung terdiri dari lapisan luar biji jagung mencakup kulit dan ujung tudung dengan sedikit bagian pati lembaganya. Kandungan nutrisi dedak jagung memiliki protein yang lebih rendah daripada biji jagung.
Tabel 4. kandungan nutrisi bahan pakan ternak asal hasil ikutan pabrik penggilingan biji-bijian
No Bahan Pakan Kandungan nutrisi (%)
Protein kasar Serat kasar TDN
1 Dedak halus 13.80 11.60 81.00
2 Dedak kasar 6.800 29.90 -
3 Dedak jagung 11.30 5.000 81.00

Lembar Kerja IV
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis
b. Bahan-bahan
1. Ampas tahu
2. Molases
3. Bungkil kedele
4. Bungkil kelapa
5. Bungkil biji kapas

c. Langkah Kerja
1. Mengamati beberapa bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein dengan cara melihat bentuknya (tekstur, warna dan bau)
2. Mengidentifikasi bahan pakan yang ada dan mencari asal dihasilkannya bahan pakan tersebut dan kandungan nutrisinya
3. Buat laporan hasil pengamatan pada bahn pakan yang telah diamati pada saat praktikum

d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi beberapa bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein
3. Siswa menyebutkan kandungan nutrisi dari beberapa bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein
4. Siswa menentukan kualitas dari beberapa bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein
5. Siswa menyimpulkan kriteria bahan pakan sumber energi dan sumber protein

e. Identifikasi Pakan Ternak Asal Limbah Pabrik
Pakan ternak asal limbah pabrik dapat dibedakan menjadi dua yaitu berupa pakan sumber energi dan pakan sumber protein. Pakan sumber energi dari limbah pabrik seperti tetes, ampas tahu dan bostel bir.
Bahan Pakan Sumber Energi
Molases
Tetes atau molases merupakan hasil ikutan pabrik gula tebu. Tetes mengandung monosakarida dan disakarida sehingga mudah dicerna oleh ternak tetapi mengandung protein yang rendah. Kandungan gulanya yang tinggi dapat meningkatkan palatabilitas ransum.
Ampas Tahu
Ampas tahu merupakan hasil ikutan pembuatan tahu dengan bahan baku kedelei. Sebagian besar dari bagian ampas tahu adalah air ± 80 % karena pada proses pembuatan tahu, kedelei direndam dalam air. Untuk menurunkan kadar airnya dapat ditambah bahan pakan lain seperti dedak padi. Ampas tahu memiliki energi dan protein yang cukup tinggi.
Ampas Bir
Ampas bir dapat diberikan pada keadaan segar/ basah, tetapi dapat pula diawetkan dan menghasilkan kadar gula yang tinggi sehingga daya cernanya tinggi. Ampas bir banyak digunakan pada ransum babi dan sapi tetapi palatabilitas rendah karena rasanya yang pahit.

Bahan Pakan Sumber Protein
Bahan pakan asal limbah pabrik yang termasuk sumber protein banyak berasal dari bahan bungkil-bungkilan seperti bungkil kedelei, bungkil kacang tanah, bungkil kelapa, bungkil kecipir, bungkil karet, bungkil biji kapas dan bungkil biji kapuk.
Bungkil Kedele
Bungkil kedelei merupakan hasil samping kedelei yang telah diambil minyaknya. Kandungan asam amino cukup tinggi kecuali metionin sehingga bungkil kedelei menjadi bahan pakan sumber protein yang terbaik setelah tepung ikan. Energi metabolis yang dikandung bungkil kedele berkisar antara 2825 kkal hingga 2890 kkal yang baik digunakan sebagai sumber energi pendamping jagung.
Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa merupakan bahan pakan yang baik karena mudah dicerna dan dianjurkan untuk ternak penghasil susu karena dapat meningkatkan kadar lemak susu. Hal tersebut disebabkan kandungan minyak yang masih tersisa dalam produk. Karena kandungan minyak tersebut bungkil kelapa mudah tengik dan berjamur sehingga perlu diatur penanganan selama penyimpanan bahan pakan. Penggunaan bungkil kelapa untuk unggas akan dibatasi dengan rendahnya kandungan lisin dan metionin.

Tabel 4. kandungan nutrisi bahan pakan ternak asal limbah pabrik
No Bahan Pakan Kandungan nutrisi (%)
Protein kasar Serat kasar TDN
1 Ampas tahu 23.70 23.60 78.00
2 tetes 5.40 10.00 53.00
3 Bostel bir kering 25.00 19.20 65.00
4 Bungkil kedele 48.00 6.200 78.00
5 Bungkil kelapa 18.60 10.40 -

Lembar Kerja V
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis

b. Bahan-bahan
1. Dedak halus
2. Dedak kasar
3. Dedak jagung
c. Langkah Kerja
1. Mengamati dedak halus, dedak kasar, bekatul dan dedak jagung dengan cara melihat bentuknya (tekstur, warna dan bau)
2. Mengidentifikasi bahan pakan yang ada dan mencari asal dihasilkannya bahan pakan tersebut dan kandungan nutrisinya
3. Buat laporan hasil pengamatan pada bahan pakan yang telah diamati pada saat praktikum
d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi kandungan nutrisi dedak halus, dedak kasar, bekatul dan dedak jagung
2. Siswa menentukan kualitas dari dedak halus, dedak kasar, bekatul dan dedak jagung serta penggunaannya pada jenis ternak.
3. Siswa menyimpulkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing bahan pakan

f. Identifikasi Pakan Jadi
Pakan Konsetrat pada Unggas
Pada umumnya pakan jadi ternak sudah mengandung nutrisi yang lengkap untuk ternak. Pakan jadi memiliki bentuk yang bermacam-macam seperti bentuk tepung (all mash), pellet dan crumble (butiran pecah).
1) Mash (tepung) adalah suatu bahan atau campuran bahan yang bentuknya tepung. Pembuatan tepung ini dilakukan secara mekanis yaitu dengan cara dihancurkan dengan alat penghancur. Ukuran partikel dapat disesuaikan dengan menggunakan saringan. keuntungannya mudah dicampur, biaya pembuatan paling murah, tetapi kerugiannya pakan mudah tercecer sehingga Feed Convertion Ration menjadi tinggi
2) Pellet (pelet) adalah bentuk masa bahan-bahan pakan, konsentrat atau ransum yang dibentuk dengan menekan dan memadatkannya melalui lubang cetakan secara mekanis. Pakan bentuk pellet merupakan pakan yang disukai unggas dan lebih efisien pemberiannya ke unggas tetapi biaya pembuatan pakan pellet lebih mahal daripada bentuk tepung
3) Crumbles adalah bahan, suatu campuran bahan atau ransum yang dipellet ukurannya dikurangi dengan menggunakan gilingan dengan ukuran yang partikel yang diinginkan.
Pakan unggas dikelompokkan pada fase pertumbuhannya meliputi ayam pedaging fase stater dan finisher, ayam petelur fase stater, fase grower dan fase layer. Berikut kebutuhan protein pakan berbagai unggas
.
Tabel .6 Kebutuhan protein ternak unggas
NO JENIS UNGGAS KEBUTUHAN NUTRISI (%)
protein lemak Serat kasar Ca P
1 Ayam pedaging stater (0-4 mg) 22-23 5,5-8 2-5 1 0.5-0.7
2 Ayam pedaging finisher (4 mg) 20-21 5,5-8,5 4-5 1 0,4-0,5
3 Ayam petelur stater 20-21 2,5 4 1 0,7-0,9
4 Ayam petelur grower 14-15 2,5 4,5 1 0,7-0,9
5 Ayam petelur layer 16-18 2,5 4,5 1 0,7-0,9

gambar 2. pakan jadi bentuk mash, pelet dan crumble



Pakan Konsentrat pada Ruminansia
Pakan jadi untuk ternak sapi biasanya berupa konsentrat, terbuat dari produk yang dihasilkan pabrik pakan, Konsentrat ini dibuat dari dua atau lebih bahan hasil ikutan pabrik, limbah pabrik atau produk pabrik. Kandungan proteinnya biasanya berkisar 14 sampai 17% dengan kandungan TDN 65 sampai 70%, dilengkapi dengan vitamin dan mineral. Konsentrat ini biasanya diberikan sebagai pakan tambahan setelah diberi sapi diberi rumput.
Pakan sapi pada umumnya berbentuk tepung dan cubes (kubus) yaitu bahan atau campuran bahan pakan yang dicetak secara mekanis dengan mesin pengepres dengan bentuk menyerupai kubus. Bentuk ini biasanya hijauan (kering) yang telah dipotong-potong atau campuran hijauan potongan hijauan kering dengan konsentrat bentuk mash yang sering disebut complete feed (makanan komplit).

Lembar Kerja VI
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis

b. Bahan-bahan
1. Pakan unggas bentuk pelet, crumble dan mash
2. Pakan konsentrat sapi

c. Langkah Kerja
1. Lakukan pengamatan dengan cara melihat bentuk dari masing-masing pakan
4. Mengidentifikasi pakan berdasarkan bentuk fisik dan kegunaannya untuk ternak
5. Buat laporan hasil pengamatan pada berbagai pakan yang telah diamati pada saat praktikum

d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi pakan bentuk mash, pellet dan crumble
3. Siswa menyebutkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing bentuk pakan jadi
4. Siswa menyimpulkan kegunaan masing-masing bentuk pakan jadi dan kebutuhan protein dari ternak tersebut

g. Identifikasi Pakan Ternak Asal Hewan
Pakan ternak asal hewan merupakan pakan sumber protein yang essensial untuk ternak non ruminansia karena kemampuan memberikan asam amino yang tidak dapat disintesis oleh ternak. Salah satu pakan asal hewan antara lain ; tepung ikan, tepung darah, tepung daging, limbah ternak unggas, dsb.

Tepung Ikan
Tepung ikan memiliki asam amino yang lengkap seperti glisin, leusin, isoleusin, lisin, valin, dan arginin. Kualitas tepung ikan dipengaruhi oleh jenis ikan, asal ikan dan proses pembuatan tepung ikan. Penggunaan tepung ikan pada ternak dibatasi karena faktor palatabilitas yang rendah yaitu baunya yang tidak disukai ternak maupun efeknya pada produk yang dihasilkan.

Tepung Darah
Tepung darah merupakan limbah dari pemotongan hewan. Kadar protein cukup tinggi kecuali isoleusin tetapi palatabilitasnya rendah karena rasanya yang pahit.

Tepung Daging
Tepung daging dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu ;
 Meat meal, bahan bakunya keseluruhan daging
 Meat and bone meal, bahan baku berupa tulang dan daging
 Meat scraps, bahan baku tetelan daging
 Died animal tankage, bahan baku hewan mati

Hasil Ikutan Limbah Ternak Unggas

Limbah ternak unggas berupa bulu unggas, kerabang telur sisa karkas dan manure. Limbah unggas selain pakan sumber portein juga merupakan sumber mineral yang banyak terdapat pada bulu unggas dan kerabang telur. Penggunaan bulu unggas sebagai pakan ternak harus diperhatikan karena adanya faktor penghambat yang dapat menyebabkan penurunan produksi unggas. Oleh karena itu penggunaan bulu unggas dibatasi 3 % dalam total ransum.
Kerabang telur merupakan hasil samping dari Hatchery yang mengandung protein, vitamin dan mineral yang baik bila dikombinasikan dengan tepung ikan dapat mengurangi pemakaian tepung ikan.
Manure merupakan feses unggas yang bercampur urine. Kandungan protein cukup tinggi 28 % tetapi serat kasar 14 % yang merupakan batasan penggunaan pada ternak unggas. Kualitas manure ini dipengaruhi oleh sumber manure sendiri berasal dari kandang sistem litter atau cage, kesehatan ayam dan pengolahan manure.
Tabel 7. kandungan protein kasar dari berbagai pakan ternak asal hewan
no Nama bahan pakan Protein kasar (%)
1 Tuna 62
2 Tepung darah 76
3 Tepung daging 58
4 Tepung daging dan tulang 47
5 Tepung bulu 82
Lembar Kerja VII
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis
b. Bahan-bahan
1. Tepung darah
2. Tepung daging
3. Tepung ikan
4. Manure
c. Langkah Kerja
1. Lakukan pengamatan dengan cara melihat karakteristik dari masing-masing bahan pakan (tekstur, warna dan bau)
4. Mengidentifikasi pakan berdasarkan karakteristik bahan pakan, kandungan nutrisinya dan kegunaannya untuk ternak
5. Buat laporan hasil pengamatan pada berbagai pakan yang telah diamati pada saat praktikum
d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi kandungan nutrisi tepung darah, tepung daging, tepung ikan, dan manure
3. Siswa menyebutkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing bahan pakan dan batasan penggunaanya dalam ransum.
4. Siswa menyimpulkan kualitas dari masing-masing bahan pakan

h. Identifikasi Awetan Hijauan dan Olahan Jerami
Awetan hijauan dan olahan jerami yang biasa digunakan adalah silase dan perlakuan jerami.
Silase
Silase hijauan biasanya dilaksanakan pada musim penghujan saat hijauan melimpah. Silase hijauan adalah proses fermentasi pakan segar pada kelembapan tinggi dan kondisi anaerob yaitu pada suhu 40-50 o C dan pH 3,9-4,2. Prinsip utama pembuatan silase adalah menghentikan pernapasan dan penguapan sel tanaman, mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara dan menahan aktifitas enzim dan bakteri pembusuk.
Kualitas nutrisi dari silase ditentukan oleh fase pertumbuhan hijauan pada saat dipotong dan tipe fermentasi. Bahan silase cukup ditekan untuk membatasi kehilangan karbohidrat oleh pernapasan. Bakteri an aerob akan mengubah karbohidrat menjadi asam laktat dan asam asetat. Jika bahan silase berupa batang dengan penekanan yang kurang sempurna menyebabkan pernapasan berlebihan dan terlalu panas, dengan kehilangan bahan kering yang tinggi dan menurunkan daya cerna protein serta menurunkan karoten bahan pakan. Tetapi jika penekanan terlalu berlebihan terutama pada bahan silase yang banyak mengandung air maka pemanasan saat fermentasi berkurang sehingga menghasilkan bau busuk dan tidak disukai ternak.
Kriteria silase yang baik :
 Baik sekali ; bersih, bau asam (tidak pahit & tajam) tidak busuk, rasa enak, tidak berjamur, tidak berlendir, dan tidak berlumut, pH 3.5- 4.2, warna hijau/kecoklatan, tekstur jelas, N amonia10 % dari N total dalam silase
 Baik ; bau dan rasa asam, pH 4.2-4.5, warna hijau, tekstur kurang jelas, N amonia 10-25 % dari N total dalam silase
 Sedang ; bau agak tengik, pH 4.5-4.8, warna kuning, tekstur kurang jelas, terdapat jamur, N amonia 10- 20 % dari N total dalam silase
 Jelek ; bau busuk, pH 4.8-7, warna coklat tua, tekstur rusak, banyak jamur dan berlendir,N amonia 20 % dari N total dalam silase

Olahan Jerami
Perlakuan pada jerami bertujuan untuk meningkatkan nilai gizinya. Perlakuan jerami secara fisik dapat dengan cara pemotongan, penggilingan, pemanasan dan tekanan. Perlakuan secara kimia menggunakan urea, sodium hidroksida atau amonium hidroksida. Perlakuan secara biologis menggunakan enzim dan jamur.

1) Hay
Hay adalah hijauan pakan berupa rumput-rumputan, leguminosa, daun-daunan, limbah pertanian yang sengaja dipanen umur muda untuk dikeringkan agar dapat disimpan lama guna persediaan pakan saat kekurangan pakan hijauan. Prinsip pembuatan hay adalah menurunkan kadar air dalam waktu singkat dari 65 -80 % menjadi 15-25 % melalui proses pengeringan dengan sedikit penurunan nilai gizi.
Kualitas hay ditentukan oleh ; umur potong, cara penanganan, kadar air dan kondisi iklim selama pemotongan. Proses pengeringan hay harus cepat agar tidak diikuti kenaikan suhu yang terlalu tinggi, sehingga perubahan komposisi kimiawi menjadi kecil. Kadar vitamin A dalam hay yang baik tidak banyak hilang. Dalam timbunan hay akan terjadi fermentasi dalam jumlah kecil yang dapat menurunkan kadar zat karbohidrat, lemak, protein dan provitamin A.
Kriteria hay yang baik antara lain ;
 Warna hijau cerah/ terang, provitamin A/ karoten tinggi dan palatabilitas tinggi
 Cukup mengandung daun, protein kasar tinggi, mineral, vitamin tinggi
 Batang kecil dan lentur/ lunak, tidak kasar dan berkayu
 Bau harum, khas bau hay
 Tekstur halus dan tidak remah
 Kecernaan tinggi
 Bersih, bebas dari debu dan jamur


2) Amoniasi
Amoniasi adalah proses perlakuan bahan pakan jerami dengan cara menambahkan bahan kimia berupa kaustik soda (NaOH), sodium hidroksida (KOH), atau urea (CO(NH2)2). Prinsip amoniasi proses dasar adalah reaksi kimia yang merenggangkan ikatan serat kasar pada jerami sekaligus mensuplai nitrogen untuk mikroba rumen yang kelanjutannya mampu meningkatkan protein untuk ternak.
Kriteria jerami amoniasi yang baik antara lain; warna amoniasi, bau tidak menyengat, tidak berlendir dan berjamur. Jerami amoniasi diberikan ke ternak setelah diangin-anginkan terlebih dahulu dan diberikan beserta pakan sumber energi. Perbandingan pemberian pakan sumber energi dengan jerami amoniasi 70:30.

Tabel 8. Kandungan nutrisi silase rumput gajah dan berbagai olahan jerami
no Nama bahan Protein Kasar (%)
1 Hay Rye grass 2,99
2 Jerami padi amoniasi 9,92
3 Silase rumput gajah 1,30

Lembar Kerja VIII
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis

b. Bahan-bahan
1. Silase rumput gajah
2. Hay
3. jerami amoniasi
c. Langkah Kerja
1. Mengamati Silase rumput gajah, Hay, jerami amoniasi dengan cara melihat bentuknya (tekstur, warna, bau dan ciri khas dari masing-masing pakan)
2. Menentukan kualitas dari Silase rumput gajah, Hay dan jerami amoniasi melalui tahap uji organoleptik (warna, tekstur, bau dan kondisi fisik bahan pakan), mengukur tingkat pH dari tiap pakan
3. Buat laporan hasil pengamatan pada Silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi yang telah diamati pada saat praktikum
d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi kualitas Silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
3. Siswa menentukan kriteria kualitas silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
4. Siswa menentukan waktu pembuatan dan penggunaan pakan silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
5. Siswa menyimpulkan kualitas dari silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi berdasarkan kandungan nutrisinya dan tujuan pembuatan dan penggunaan silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
6. Buat tabel pembeda antara hay, amoniasi dan silase !

i. Identifikasi Pakan Tambahan
Pakan tembahan atau feed addive adalah suatu senyawa atau bahan yang bukan merupakan zat makanan yang ditambahkan ke dalam ransum atau diberikan ke ternak dengan tujuan untuk memacu pertumbuhan, meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi maupun memperbaiki efisiensi penggunaan makanan.
Pakan tembahan atau feed additive dapat digolongkan menjadi :
1) Tambahan untuk meningkatkan seleksi dan konsumsi pakan, contoh pellet binder dan flavour agent
2) Tambahan untuk membantu proses pencernaan dan aborbsi zat makanan, contoh antibiotik dan enzim
3) Tambahan untuk meningkatkan metabolisme, contoh hormon
4) Tambahan untuk menjaga kesehatan ternak, contoh anti oksidan, coccidiostat
5) Tambahan untuk memperbaiki kualitas produksi, contoh xantophyl dan oxytetracyclin.
1) Tambahan untuk meningkatkan seleksi dan konsumsi pakan
Bentuk, rasa, warna maupun aroma merupakan faktor yang mempengaruhi palatabilitas ransum, yang berhubungan dengan konsumsi makanan. Beberapa perlakuan berikut ini mampu memperbaiki rasa, aroma atau merubah bentuk ransum sehingga meningkatkan palatabilitas ransum.
Pellet binder bertujuan memperbaiki ketahanan pellet dan meningkatkan efisiensi penggunaan makanan. Pemakaian perekat pellet sebaiknya tidak lebih dari 0,25 % dari total ransum. Pellet binder dapat berupa bahan pakan yang mengandung pati seperti jagung, gandum atau preparat seperti selulosa esther.
flavour agent adalah bahan tambahan yang sengaja ditambahkan untuk memperbaiki rasa, aroma, atau warna sehinggga meningkatkan palatabilitas ransum seperti larutan sukrose dan tetes.
2) Tambahan untuk membantu proses pencernaan dan aborbsi zat makanan
Antibiotik adalah zat yang dibuat atau dihasilkan oleh organisme hidup yang dapat menghalangi atau merusak kehidupan organisme lain. Penggunaan antibiotik bertujuan untuk membantu pertumbuhan mikroorganisme yang mensintesis zat makanan dan menghalangi pertumbuhan mikroorganisme patogen sehingga penyerapan zat makanan meningkat. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan antibiotik adalah adanya timbunan (residu) antibiotik pada ternak yang berpengaruh pada manusia sehingga perlu adanya withdrawal-time.
Enzim ditambahkan ke dalam ransum untuk mempercepat proses pencernaan zat makanan sehhingga meningkatkan efisiensi ransum. Contoh enzim yang sering digunakan adalah protease dan amilum.

3) Tambahan untuk meningkatkan metabolisme
Hormon sintetik sering dipakai untuk memacu pertumbuhan ternak seperti estrogen digunakan untuk penimbunan lemak dan memperlunak daging. Tetapi penggunaan hormon sekarang tidak diperkenankan dengan memperhatikan efek residu hormon dan kemungkinan bersifat karsinogenik.

4) Tambahan untuk menjaga kesehatan ternak
Anti oksidan diberikan dalam ransum bertujuan untuk mencegah proses oksidasi pakan akibat panas, sinar maupun efek dari bahan kimia. Salah sati anti oksidan yang biasa dipakai adalah vitamin. Coccidiostat digunakan untuk mengontrol coccidial infectious yang disebabkan coccidia.

5) Tambahan untuk memperbaiki kualitas produksi
Xantophyl merupakan pigmen kuning yang mempengaruhi warna produk daging dan kuning telur. Sedangkan oxytetracyclin digunakan untuk memperbaiki tekstur dan kualitas kulit telur.

Lembar Kerja IX
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis
b. Bahan-bahan
1. Silase rumput gajah
2. Hay
3. jerami amoniasi
c. Langkah Kerja
1. Mengamati Silase rumput gajah, Hay, jerami amoniasi dengan cara melihat bentuknya (tekstur, warna, bau dan ciri khas dari masing-masing pakan)
2. Menentukan kualitas dari Silase rumput gajah, Hay dan jerami amoniasi melalui tahap uji organoleptik (warna, tekstur, bau dan kondisi fisik bahan pakan), mengukur tingkat pH dari tiap pakan
3. Buat laporan hasil pengamatan pada Silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi yang telah diamati pada saat praktikum
d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi kualitas Silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
3. Siswa menentukan kriteria kualitas silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
4. Siswa menentukan waktu pembuatan dan penggunaan pakan silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
5. Siswa menyimpulkan kualitas dari silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi berdasarkan kandungan nutrisinya dan tujuan pembuatan dan penggunaan silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi

Lembar Evaluasi I

a. Pelaksanaan Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan cara test tertulis 10 menit setiap kali pertemuan untuk memacu siswa mau membaca materi yang sudah diberikan sebelumnya, test tertulis pertengahan dan akhir masa pembelajaran. Test keterampilan dilakukan di laboratorium dan laporan hasil praktek beserta tugas.

b. Hasil Evaluasi
Nilai hasil evaluasi merupakan gabungan keseluruhan test , praktikum dan laporan dengan proporsi yang berimbang.

c. Pertanyaan Untuk Evaluasi
1. Apa perbedaan rumput dan leguminosa ?
2. Bagaimanakah kualitas nutrisi rumput dan leguminosa?
3. Bagaimanakah spesifikasi ternak yang mengkonsumsi rumput dan leguminosa ?
4. Bagaimanakah kualitas pakan ternak asal limbah pertanian ?
5. Sebutkan masing-masing tiga bahan pakan ternak asal limbah pertanian tanaman pangan dan sayuran berdasarkan batasan penggunaanya ke ternak?
6. Bagaimanakah potensi dan kualitas pakan ternak asal tanaman pangan?
7. Sebutkan hambatan pemanfaatan pakan ternak asal tanaman pangan!
8. Bagaimanakah kualitas pakan ternak hasil ikutan pabrik penggilingan biji-bijian ?
9. Bagaimanakah spesifikasi ternak yang mengkonsumsi pakan ternak hasil ikutan pabrik penggilingan biji-bijian ?
10. Bagaimanakah potensi pakan ternak asal limbah pabrik berdasarkan kandungan nutrisi, ketersediaan dan secara ekonomis ?
11. Sebutkan bentuk pakan jadi berdasarkan spesifikasi pemberiannya ke ternak ?
12. Bagaimanakah kualitas pakan ternak asal hewan ?
13. Bagaimanakah pemanfaatan pakan ternak asal hewan berdasarkan faktor palatabilitas pakan ?
14. Apa yang dimaksud pakan tambahan dan jelaskan klasifikasinya?
15. Sebutkan kriteria identifikasi pakan ternak
Sumber Pustaka :
POSTED BY Bayu Nugraha Saputra ON 07.26.07 @ 3:09netfarm.blogsome.com/.../pemanfaatan-pakan-suplemen-urea-molasses-block-umb/ - Tembolok - Mirip.
Hartadi, H, dkk, 1986. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Kartasudjana, R. 2001. Pemilihan Bahan Pakan-Teknik Produksi Pakan Ternak. Departemen Pendidikan Nasional Proyek Pengembangan Sistem Dan Standar Pengelolaan SMK-Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta.

Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Budidaya Ayam Petelur (Gallus sp.) Bappenas.
Rasyaf, M, 2000. Bahan Makanan Unggas di Indonesia. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor- Kanisius. Jakarta.
Soetanto, H. 2003. Buku petunjuk Pakan dan Cara Pemberian ke Ternak. Diktat Kuliah Ruminansia-AMLC/APFINDO.
Susanto S, Andajani S, 1988. Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. NUFFIC-Universitas Brawijaya. Malang
Tillman, A, dkk. 1989. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Press. Jogyakarta.
Wahju, Juju, 1991. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada Press. Jogyakarta.


















ANALISA BAHAN PAKAN TERNAK

1. Standar Kompetensi : Siswa mampu melakukan analisis bahan pakan ternak untuk mengetahui kualitas bahan pakan ternak berdasarkan kandungan nutrisinya.
2. Kompetensi Dasar :
a. Fungsi Analisa Pakan
b. Identifikasi Peralatan Analisa Pakan Ternak
c. Pengambilan Sampel
d. Penanganan Sampel
e. Analisa Kadar Air
f. Analisa Kadar Abu
g. Analisa Kadar Lemak
h. Analisa Kadar Protein Kasar
i. Analisa Serat Kasar

A. Analisa Pakan Ternak
Zat gizi sangat diperlukan oleh hewan untuk pertumbuhan, produksi, reproduksi, dan hidup pokok. Makanan ternak berisi zat gizi untuk kebutuhan energi dan fungsi-fungsi di atas. Tetapi setiap ternak kandungan zat gizi yang dibutuhkannnya berbeda-beda. Suatu keuntungan bahwa zat gizi, selain mineral dan vitamin tidak sendiri-sendiri mempunyai sifat kimia. Zat sumber energi dapat digolongkan misalnya dari sumber karbohidrat yang mempunyai kandungan kimia karbon, hydrogen dan oksigen. Sedangkan protein terdiri dari asam amino dan berisi ± 16 % nitrogen.
Analisa mineral dimulai dengan membakar zat makanan (bahan kering) atau diabukan. Dengan pembakaran dapat dihilangkan zat-zat organik. Secara parktis nilai abu didapatkan dari perhitungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) .
Untuk mengetahui kualitas pakan ternak dapat melalui dua cara yaitu uji organoleptik dan analisa proksimat. Uji organoleptik merupakan suatu cara memprekdisi kualitas pakan ternak berdasarkan data fisik yang meliputi ; bentuk, warna, bau dan rasa. Uji organoleptik dapat menjadi salah satu indikator adanya pemalsuan bahan pakan. Pemalsuan bahan pakan ternak merupakan salah satu masalah yang umum terjadi di negara-negara berkembang. Bahan-bahan pemalsu diantaranya pasir halus, serbuk gergaji, dedak padi, grit, urea dan bahan-bahan lain yang berkualitas rendah dan harga murah. Pemalsuan bahan pakan ternak ini dapat mempengaruhi komposisi ransum yang dihasilkan.
Uji kualitas pakan ternak selanjutnya adalah analisa proksimat. Analisa proksimat dikembangkan dari Weende Experiment Station di Jerman oleh Hanneberg dan Stokman pada tahun 1865. Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan.
Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di dalamnya. Selain itu manfaat dari analisis proksimat adalah dasar untuk formulasi ransum dan bagian dari prosedur untuk uji kecernaan.
Penentuan analisis proksimat atau Weende analysis meliputi ;
1. Kadar air atau bahan kering (BK)
2. Protein kasar (PK)
3. Lemak kasar (LK)
4. Serat kasar (SK)
5. Bahan tanpa ekstrak nitrogen (BETN)
6. Abu/ mineral/ bahan orgnaik (BO)

B. Peralatan Analisa Bahan Pakan Ternak
No Nama Alat Fungsi Gambar
1 Destilasi Aquadest Untuk pemurnian aquadest



2 Pemanas Listrik Memanaskan sampel bahan pakan



3 Oven 105o C Untuk mengurangi kadar air udara
4 Ekstraksi Untuk mengambil filtrat/ endapan



5 Destilasi Pemurnian/ penyulingan untuk mengurangi reaksi alkali



6 Destruksi Mengubah N protein menjadi amonium sulfat
7 Titrasi Untuk penentuan nilai N

8 Timbangan digital Penentuan berat sampel



9 Beaker Glass Wadah berskala untuk sampel cair

10 Labu Destruksi Tempat oksidasi/ proses destruksi



11 Erlenmeyer Wadah pengenceran larutan

12 Pipet Untuk mengambil larutan

13 Pipet Balon Untuk mengambil larutan



14 Cuvet Tabung pengocok untuk mengendapkan sampel koloid



15 Labu Ukur untuk membuat larutan standar dengan volume tertentu misalnya 10, 25, 50 mL. Jangan gunakan beaker glass untuk membuat larutan standar sebab labu ukur lebih presisi

16 Gelas Ukur Wadah berskala untuk sampel cair



17 Cawan Porselen Wadah sampel bentuk serbuk


18 Corong Kecil Untuk memindah sampel
19 Kertas whatman No.42 Untuk menyaring residu/filtrat



20 Eksikator Mendinginkan sampel
21 Lemari asam Tempat penanganan sampel bahan asam kuat

22 Hammer mill Penggiling sampel menjadi serbuk dengan diameter tertentu




C. Prosedur Laboratorium
C. 1. Safety Laboratorium
1) Semua praktikan harus memakai jas laboratorium
2) Membaca petunjuk pratikum dengan baik
3) Menimbang dengan teliti dan membersihkan dan mengembalikan ke posisi semula
4) Berhati-hati dalam menuang reagensia dari botol dalam posisi miring dan tidak boleh meninggalkan tetesan reagen di luar botol
5) Untuk analisa kadar air pada tanur tidak boleh menaikkan suhu tinggi
6) Untuk mencampur larutan pekat dan air dengan mendahulukan asam pekat ke air jangan sebaliknya
7) Jangan mencampur asam pekat dan basa pekat
8) Jangan memasukkan KOH dan NaOH ke dalam air panas
9) Cawan, piala dan alat berbahan kaca yang masih panas tidak boleh diletakan di atas meja bercat atau porselen/ keramik tetapi diletakkan di atas kayu
10) Semua reagensia memiliki titer tersendiri dan harus di standarasi terlebih dahulu
11) Selesai analisa semua peralatan harus dicuci sampai bersih dan dikembalikan kepada petugas atau tempat yang telah disediakan
C. 2. Pengambilan Sampel
1) Aselektif, sampel diambil sejumlah bahan yang dapat dicampur sebaik mungkin (homogen) sehingga tidak ada pilihan terhadap suatu keadaan. Contoh; rumput dipotong 2-3 cm
2) Selektif, hanya mengambil bagian tertentu dari sampel yang ingin diketahui nilai nutrisinya. Contoh; mengambil sampel batang atau daun saja
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan sampel :
 Segregasi, efek berat bahan berpengaruh terhadap homogenitas bahan walaupun tercampur dengan baik bahan yang berat dan ringan akan terpisah
 Jumlah sampel tergantung pada nilai nutrisi apa yang akan diukur. Homogenitas bahan sampel hijauan 1-1,5 kg dan konsentrat 0,5-1 kg
 Sampel basah harus dikeringkan dan dimasukkan dalam kantong selanjutnya disimpan ditempat kering
 Untuk jerami amoniasi disimpan dalam freezer agar gas amonia tidak menguap
C. 3. Penanganan Sampel
1) Sampel yang datang di laboratorium harus segera ditimbang, baik yang masih segar maupun yang sudah kering
2) Sampel hijauan segar dikeringkan terlebih dahulu dalam oven 105o C pada suhu 60o-70o C selama 24 jam. Setelah dingin ditimbang lagi untuk mengetahui kering udara
3) Sampel buah dan biji-bijian yang memiliki kulit dikupas terlebih dahulu kemudian ditimbang dan dikeringkan
4) Sampel konsentrat yang sudah kering dan halus langsung ditimbang
5) Semua bahan yang akan dianalisis harus dihaluskan dengan digiling dan disaring dengan saring Ø 1 mm
6) Semua bahan yang akan dianalisis diberi kode dan arti kode tersebut harus dicatat di buku khusus

D. Analisa Kadar Air
D.1.Prinsip
Menguapkan air yang terdapat dalam bahan dengan oven dengan suhu 100°-105°C dalam jangka waktu tertentu (3-24 jam) hingga seluruh air yang terdapat dalam bahan menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi.

D. 2. Alat dan Bahan
 Oven listrik
 Timbangan analitik/ digital
 Cawan aluminium
 Eksikator
 Tang penjepit
D. 3. Prosedur
1) Keringkan cawan aluminium dalam oven selama 1 jam pada suhu 100°-105°C
2) Kemudian dinginkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang beratnya (catat sebagai X gram)
3) Tambahkan ke dalam cawan aluminium tersebut sejumlah sample/bahan lebih kurang 2-5 gram, timbang dengan teliti. Dengan demikian berat bahan/sample dapat diketahui dengan tepat (catat sebagai Y gram). Bila menggunakan timbangan analitik digital maka dapat diketahui berat sampelnya dengan menset zero balans, yaitu setelah berat aluminium diketahui beratnya dan telah dicatat, kemudian dizerokan sehingga penunjuk angka menjadi nol, lalu sampel langsung dimasukkan ke dalam cawan dan kemudian timbang beratnya dan catat sebagai Z gram.
4) Masukkan cawan+sampel ke dalam oven selama 3 jam pada suhu 100°-105°C sehingga seluruh air menguap. (Atau dapat pula dimasukkan dalam oven dengan suhu 60°C selam 48 jam)
5) Masukkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang. Ulangi pekerjaan ini dari tahap no 4 dan 5, sampai beratnya tidak berubah lagi. Catat sebagai Y gram.
6) Setiap kali memindahkan cawan aluminium baik berisi sampel atau tidak gunakan tang penjepit.

E. Anlisa Kadar Abu
E. 1. Prinsip
Membakar bahan dalam tanur (furnace) dengan suhu 600°C selama 3-8 jam sehingga seluruh unsur pertama pembentuk senyawa organik (C,H,O,N) habis terbakar dan berubah menjadi gas. Sisanya yang tidak terbakar adalah abu yang merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang terdapat dalam bahan. Dengan perkataan lain, abu merupakan total mineral dalam bahan.

Kadar bahan organik dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut :
Bahan Organik (BO) = ( Bahan Kering (BK) – Abu ) %
E. 2. Alat dan Bahan
 Cawan porselen 30 mL
 Pembakar bunsen atau hot plate
 Tanur listrik
 Eksikator
 Tang penjepit

E. 3. Prosedur
1) Keringkan cawan porselen ke dalam oven selama 1 jam pada suhu 100°-105°C.
2) Dinginkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang, catat sebagai X gram
3) Masukkan sejumlah sampel kering oven 2-5 gram ke dalam cawan, catat sebagai Y gram
4) Panaskan dengan hot plate atau pembakar bunsen sampai tidak berasap lagi
5) Masukkan ke dalam tanur listrik dengan temperatur 600-700°C, biarkan beberapa lama sampai bahan berubah menjadi abu putih betul. Lama pembakaran sekitar 3-6 jam
6) Dinginkan dalam eksikator kurang lebih 30 menit dan timbang dengan teliti, catat sebagai Z gram
7) Hitung kadar abunya!

F. Ekstraksi Lemak
F. 1. Prinsip
Melarutkan (ekstraksi) lemak yang terdapat dalam bahan dengan pelaut lemak (ether) selama 3-8 jam. Ekstraksi menggunakan alat sokhlet. Beberapa pelarut yang dapat digunakan adalah kloroform, heksana, dan aseton. Lemak yang terekstraksi (larut dalm pelarut) terakumulasi dalam wadah pelarut (labu sokhlet) kemudian dipisahkan dari pelarutnya dengan cara dipanaskan dalam oven suhu 105°C. Pelarut akan menguap sedangkan lemak tidak (titik didih lemak lebih besar dari 105°C, sehingga tidak menguap dan tinggal di dalam wadah). Lemak yang tinggal dalam wadah ditentukan beratnya.
Lemak kasar (%) =
F. 2. Alat dan Bahan
Alat
 Satu set alat sokhlet
 Kertas saring bebas lemak
 Kapas dan biji hekter
 Eksikator
 Timbangan analitik
Bahan (zat kimia) : Kloroform


F. 3. Prosedur
1) Siapkan kertas saring yang telah kering oven (gunakan kertas saring bebas lemak)
2) Buatlah selongsong penyaring yang dibuat dari kertas saring, timbang dan catat beratnya sebagai A gram. Masukkan sampel sekitar 2-5 gram dalam selongsong kemudian timbang dan catat beratnya sebagai B gram. Tutup dengan kapas kemudian dihekter, lalu timbang dan catat beratnya sebagai C gram. Berat sampel = (B-A) gram
3) Selongsong penyaring berisi sampel dimasukkan ke dalam alat soxhlet. Masukan pelarut lemak (Klorofom) sebanyak 100-200 mL ke dalam labu didihnya. Lakukan ekstraksi (nyalakan pemanas hot plate dan alirkan air pada bagian kondensornya).
4) Ekstrasi dilakukan selama lebih kurang 6 jam. Ambil selongsong yang berisi sampel yang telah diekstrasi dan keringkan di dalam oven selama 1 jam pada suhu 1050 . kemudian masukan ke dalam eksikator 15 menit dan kemudian timbang dan catat beratnya sebagai D gram.
5) Kloroform yang terdapat dalam labu didih, didestilasi sehingga tertampung di penampungan sokhlet. Kloroform yang tertampung disimpan untuk digunakan kembali.

G. Protein Kasar
G. 1. Prinsip
Penetapan nilai protein kasar dilakukan secara tidak langsung, karena analisis ini didasarkan pada penentuan kadar nitrogen yang terdapat dalam bahan. Kandungan nitrogen yang diperoleh dikalikan dengan angka 6,25 sebagai angka konversi menjadi nilai protein. Nilai 6,25 diperoleh dari asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen (perbandingan protein : nitrogen =100 :16 = 6,25:1). Penentuan nitrogen dalam analisis ini melalui tiga tahapan analis kimia:
Destruksi
Yaitu menghancurkan bahan menjadi komponen sederhana, sehingga nitrogen dalam bahan terurai dari ikatan organiknya. Nitrogen yang terpisah diikat oleh H2SO4 menjadi (NH4)2SO4.
Destilasi
Pengikatan komponen organik tidak hanya kepada nitrogen saja, tetapi juga terhadap komponen lain, oleh karena itu nitrogen harus diisolasi. Untuk melepaskan nitrogen dalam larutan hasil destruksi adalah dengan membentuk gas NH3. Pemberian NaOH 40% akan merubah (NH4)2SO4 menjadi NH4OH. NH4OH bila dipanaskan akan berubah menjadi gas NH3 dan air, yang kemudian dikondensasi. NH3 akhirnya ditangkap oleh larutan asam borat 5% membentuk (NH4)3BO3. Nitrogen dalam (NH4)3BO3 ditentukan jumlahnya dengan cara dititrasi dengan HCl.
G. 2. .Alat dan Bahan
Alat :
 Labu Kjeldahl 300 mL
 Satu set alat estilasi
 Erlenmeyer 250 cc
 Buret 50 cc skala 0,1 mL
 Timbangan analitik
Bahan ( zat kimia)
 Asam Sulfat pekat
 Asam Chorida ( yang sudah diketahui normalitasnya)
 Natrium Hydroxsida 40%
 Katalis campuran (yang dibuat dari CuSO4.5H2O dan K2SO4 dengan perbandingan 1:5
 Asam borax 5%
 Indikator campuran ( brom cresolgreen : Methyl merah = 4 : 5. sebanyak 0,9 gram campuran dilarutkan dalam alkohol 100 mL)
G. 3. Prosedur
Destruksi
1) Timbang contoh sampel kering oven sebanyak ± 1 gram ( catat sebagai A gram).
2) Masukan ke dalam labu kjeldhal dengan hati-hati, dan tambahkan 6 gram katalis campuran.
3) Tambah 20 mL Asam Sulfat pekat. Panaskan dalam nyala api kecil di lemari asam. Bila sudah tidak berbuih lagi destruksi diteruskan dengan nyala api yang besar.
4) Destruksi sudah di anggap selesai bila larutan sudah berwarna hijau jernih, setelah itu dinginkan.
Destilasi
1) Siapkan alat destilasi selengkapnya, pasang dengan hati-hati jangan lupa batu didih, vaselin dan tali pengaman
2) Pindahkan larutan hasil destruksi ke dalam labu didih, kemudian bilas dengan aquades sebanyak lebih kurang 50 mL.
3) Pasangkan erlenmeyer yang telah diisi asam borax 5% sebanyak 5 mL untuk menangkap gas amonia, dan telah diberi indikator campuran sebanyak 2 tetes.
Basakan larutan bahan dari destruksi dengan menambah 40-60 mL NaOH 40% melalui corong samping. Tutup kran corong segera setelah larutan tersebut masuk ke labu didih
4) Nyalakan pemanas bonsen dan alirkan air ke dalam kran pendingin tegak. Lakukan destilasi sampai semua N dalam larutan dianggap telah tertangkap oleh asam borax yang ditandai dengan menyusutnya larutan dalam labu didih sebanyak 2/3 bagian (atau sekurang-kurangnya sudah tertampung dalam erlenmeyer sebanyak 15 mL
Titrasi
1) Erlenmeyer berisi sulingan tadi diambil (jangan lpa membilas bagian yang terendam dalam air sulingan)
2) Kemudian titrasi dengan HCl yang sudah diketahui normalitasnya catat sebagai B, titik titrasi dicapai dengan ditandai perubahan warna hijau ke abu-abu. Catat jumlah larutan HCl yang terpakai sebagai C mL

H. Kadar serat kasar
H. 1. Prinsip
Serat kasar adalah semua zat-zat organik yang tidak dapat larut dalam H2SO4 0.3 N dan dalam NaOH 1.5 N yang berturut-turut dipanaskan selama 30 menit. Serat kasar terdiri dari sellulosa, hemisellulosa, lignin dan silika serta sebagian pentosan-pentosan.
H. 2. Cara Kerja
1) Sampel ditimbang seberat 1 gram (x) dan dimasukkan ke dalam gelas piala 500 ml. Sampel ditambahkan 50 ml H2SO4 0.3 N dan dipanaskan hingga mendidih selama 30 menit.
2) Setelah itu ke dalam gelas piala ditambahkan pula 25 ml NaOH 1.5 N dan terus dididihkan kembali selama 30 menit kedua. Waktu pendidihan diperhatikan agar api tidak terlalu besar dan cairan tidak meluap dan tumpah.
3) Sebuah kertas saring ditimbang seberat ( a ) gram.
4) Cairan tersebut disaring dengan menggunakan kertas saring yang sudah ditimbang sebelumnya dan dilakukan penyaringan dengan menggunakan corong Buchner. Proses penyaringan berturut-turut dicuci dengan : 50 ml air panas; 50 ml H2SO4 0.3 N; 50 ml air panas ; 25 ml Aceton
5) Kertas saring dan isinya dimasukkan ke dalam cawan porselin dan dikeringkan di dalam oven dengan suhu 105°C.
6) Kertas saring dan isisnya yang telah dikerngkan didinginkan dalam eksikator selama 1 jam dan timbang ( y ) gram.
7) Setelah itu kertas saring dan isinya dipijarkan di dalam tanur sampai menjadi putih dan dinginkan kembali serta timbang ( z ) gram. Adapun rumus penentuan kadar serat kasar sebagai berikut:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar