Selasa, 10 Agustus 2010

TIPS PEMBERIAN PAKAN

Tip’S N’ Trik Membuat Ransum Sapi
*********Nida Hutama***********

1. Hijauan
2. Konsentrat
3. Mineral
4. Vitamin

Rumput dan leguminosa

 Hijauan dengan kualitas tinggi dapat diberikan hingga 2/3 kandungan BK ransum
 Konsumsi BK ransum antara 2,5 %-3,0 % dari BB
 Ternak perah umumnya lebih menyukai leguminosa dibanding rumput pada stadia pertumbuhan yang sama
 Pemberian hijauan berkualitas bagus sangat diperlukan dalam ransum seimbang untuk memasok enersi dan protein yang dibutuhkan ternak

Karakteristik Limbah Pertanian

 Inexpensive bulk feed
 High in indigestible fiber because of high lignin content
 Poor in crude protein
 Need to be supplement properly especially in protein and minerals
 Need to be coarsly chopped when harvested or feeding time
 Should be included in ration of non lactating animals with low energy requirement

Karakteristik Konsentrat

 Low in fiber and high in energy
 They can be either low or high in protein
 High palatability
 Do not stimulate rumination
 It is fermented faster than forages in the rumen, so the lower pH affect fiber digestion
 If given more than 60-70 % in the ration may cause a health problem

Mineral & Vitamin
 Merupakan komponen penting dalam ransum !!!!!!
 Makro mineral yang dibutuhkan sapi perah : Na, Cl, P, K, Mg dan S
 Mikro mineral dapat diberikan dengan premix
 Jika ransum banyak leguminosa maka Ca diberikan dalam jumlah sedikit
(contoh di + tetes atau UMB)
 Pemberian mineral mix dalam ransum berkisar antara 0-150 gr/ekor/hari untuk sapi perah

Jika pengen membuat ransum sempurna kalian harus tahu fase ternak yang diberi ransum, pakan apa yang diberikan dan seberapa banyak pakan diberikan baik kuantitas maupun kualitasnya dan jangan lupa berapa batasan penggunaan tiap bahan pakan !
*Selamat mencoba ! Jadilah peternak yang berhasil
dan mampu membuat keajaiban dibalik formulasi ransum *

lembar praktek

PEMUPUKAN



Menghitung kebutuhan pupuk untuk luas tertentu

Kebutuhan pupuk :
Keterangan : A : luas yang akan dipupuk (m2)
B : dosis pemupukan (kg/ha)
C : kadar pupuk (%)
1. Luas lahan HMT 232 m2
2. Luas bedengan 32 m2
3. Dosis pupuk R. Gajah 10-30 kg N (Sumber: Prosea,2000)
4. Pupuk Urea kadar N 45 %
Pemupukan lahan HMT :

: 0,213 kg = 213 gram ~ 500 gram
FORMULASI RANSUM RUMINANSIA

Kebutuhan Ternak akan Zat-zat Makanan
Dalam penyusunan ransum atau formulasi ransum ternak ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan karena mempengaruhi kebutuhan zat-zat makanan, yaitu ; jenis ternak, jenis kelamin, bobot badan, taraf pertumbuhan, tingkat produksi, dan jenis produksi.
1. Bahan Kering (BK)
Kebutuhan bahan kering menjadi dasar formulasi karena konsumsi ternak didasarkan pada bahan kering bukan kadar air. Konsumsi BK ternak ruminansia sekitar 2-3 % dari bobot badan. Dan dipengaruhi oleh faktor berikut :
a. Bobot badan ternak, semakin berat ternak maka semakin banyak BK yang dikonsumsi
b. Macam bahan pakan, bahan pakan yang kecernaannya tinggi akan dikonsumsi lebih banyak
c. Umur/ kondisi ternak, ternak yang lebih tua dan lebih gemuk akan mengkonsumsi Bk lebih sedikit per satuan berat badan dibandingkan dengan yang lebih muda dan lebih kurus
d. Kadar energi bahan pakan, bahan pakan yang kadar energinya tinggi akan dikonsumsi lebih sedikit daripada bahan pakan yang energinya rendah
e. Stress, temperature udara yang tinggi akan menurunkan konsumsi BK
f. Jenis kelamin, ternak jantan mengkonsumsi BK lebih banyak daripada ternak betina yaitu sekitar 10 %
Istilah-istilah:
 As fed : pakan dalam bentuk segar
 Air dry matter: bahan pakan yang dikeringkan sehingga kandungan airnya tinggal sekitar 10-15 % dengan tujuan agar bahan tersebut dapat disimpan tanpa mengalami kerusakan
 Dry matter : bahan pakan yang semua airnya diuapkan dalam oven sehingga kadar airnya 0%
2. Digestible energy (DE), merupakan selisih antara energi yang terkandung di dalam pakan dengan energi dalam feses dengan asumsi bahwa energi yang tidak terdapat di dalam feses adalah dicerna dan diserap oleh tubuh
3. Metabolize energy (ME), merupakan selisih antara jumlah energi yang hilang sebagai gas methan dan urine
4. Net energy (NE), merupakan energi untuk hidup pokok dan produksi yang dapat dihitung dari energi yang hilang dalam bentuk panas tubuh selam proses metabolisme makanan
5. Martabat pati (MP), angka yang menunjukkan jumlah pati yang sama besar dayanya dengan 100 kg bahan makanan untuk membentuk lemak yang sama di dalam tubuh
6. Total digestible Nutrient (TDN),
7. Digestible protein (DP), komponen asam amino untuk ruminansia diperoleh dari mikroba rumen dan retikulum yang bersumber nitrogen bukan protein (NPN)
8. Mineral, yang penting adalah unsur Ca dan P sedangkan Na dan Cl dapat diperoleh dari garam dapur
9. Vitamin, dapat disintesis oleh mikroba rumen, sedangkan untuk vitamin A dan D. vitamin D dibawah kulit telah tersedia dalam bentuk provit D sehingga hanya vitamin A yang harus disediakan. Kebutuhan vitamin A untuk sapi yang sedang digemukkan sebanyak 2200 IU/ kgBK ransum, sapi bunting 2800 IU, sapi laktasi dan pemacak 3900 IU
10. Air, kebutuhan air untuk sapai non laktasi sekitar 3-8,5 liter/kg BK yang dikonsumsi, sedangkan untuk laktasi di tambah sekitar 0,87 % kg/ 1 kg air susu

RANSUM SAPI PERAH

Perubahan selama laktasi, yaitu :
1. pada awal laktasi sapi berada dalam keseimbangan zat makanan yang negatif karena nutrisi lebih banyak digunakan untuk sintesis susu, feses dan urine daripada zat yang dikonsumsi sehingga tubuh sapi kurus
2. pada saat produksi susu turun sulit diatasi dengan pemberian pakan karena pada saat itu sebagian pakan yang digunakan untuk memullihkan kondisi tubuh dan untuk pertumbuhan anak
3. menjelang akhir laktasi pemberian pakan perlu ditambah karena meningkatkan bobot sapi
Pengaruh Lingkungan terhadap Produksi susu : Suhu lingkungan yang tinggi sapi perah akan mempertahankan diri dari ancaman kepanasan dengan jalan mengurangi konsumsi pakannya sehiingga produksi susu turun

Ransum Periode menyusu (umur 0-4 bl)
 minggu pertama diberikan kolostrum, kebutuhan susu 10 % bobot induk
 umur dua minggu sebagian diganti dengan milk replacer, yang terbuat dari :
• susu skim 10 %
• bungkil kedele 10 %
• bungkil kacang tanah 10 %
• tepung tapioka 70 %
• air hangat
 umur dua minggu diberi rumput muda dan diberikan ad libitum
 umur empat bulan diberi rumput sekitar 1-2 kg
 ransum pedet pada periode menyusu
Umur (minggu) Air susu (liter) Milk replacer (kg) Air (liter)
0-2 3,5 - -
2-4 3,5 0,1 0,5
4-6 4.0 0,3 1,0
6-8 3,5 0,5 2,0
8-10 3,0 0,8 3,0
10-12 2,5 1,0 4,0
12-14 1,0 1,3 5,0
14-6 1,0 1,5 6,0

 jika pedet disapih, diberi kolostrum ;
• air 1 liter
• satu sendok minyak ikan
• telor satu butir
• susu satu liter
• semua bahan diaduk dan dipanaskan pada suhu 90-100o C
Umur pedet Hari ke… Jumlah susu (liter)
1 Susu induk
4 3,0 kolostrum
5 3,5
6 4,0
Minggu ke 2 4,5
3 5,0
4 5,5
5 6,0
6 6,0
7 5,0
8 4,5
9 3,5
10 3,0
11 2,5
12 2,0
13 1,0
14 0,5

 umur satu bulan konsentrat, sbb ;
• bungkil kelapa ; 1 bagian
• bekatul (beras merah) ; 1 bagian
• kacang hijau
• jagung
• bungkil kacang tanah ; 1 bagian
• jagung ; 2 bagian
• semua bahan digiling halus
 umur satu bulan diberi 0,25 kg konsentrat
 umur dua bulan sampai dengan lima bulan diberi 0,5 kg konsentrat
 umur enam bulan 1,5 kg konsentrat
Ransum Pertumbuhan Anak Sapi (4-12 bulan)
 umur 4 bulan diberi konsentrat calf stater (protein 18 %) bersama rumput
 calf stater terdiri atas ;
• bungkil kedele 24 %
• bungkil kelapa 26 %
• dedak halus 25 %
• onggok 25 %
 ransum pedet umur 4-12 bulan ;
Umur (bulan) Rumput (kg) Calf stater (kg)
4-6 1-2 1-2
6-8 3-5 1-2
8-10 6-9 1-2
10-12 10-15 1-2

Sapi Pertumbuhan sapi Dara
 protein kasar ± 15 %
 ransum terdiri atas ;
• bungkil kelapa 55 %
• dedak halus 40 %
• onggok 5 %
 ransum sapi dara ;
Umur (bulan) Rumput (kg) konsentrat
12-18 15 2,25
18-24 20 2,50
24-30 25 2,75
30-36 30 3,00

Ransum Sapi Laktasi
 Pemberian pakan sebanyak 80 % dari konsumsi pakan bebas (voluntary intake) praktis sama 100 %
 Sapi membutuhkan serat kasar tertentu di dalam ransum dapat dari hijauan. Koefisien cerna tertinggi dicapai dari perbandingan bahan kering hijauan dan bahan kering konsentrat = 50 % : 50 %, atau bahan kering hijauan berkisar antara 40-60 % dari total kebutuhan bahan kering ransum
 Harga dari susu dinilai dari kadar lemaknya, kadar lemak susu segar sekurang-kurangnya 2,8 % lemak. Lemak susu berasal dari hasil fermentasi serat kasar yaitu asam acetat sehingga kebutuhan hijauan tidak dapat dikurangi, oleh karena itu supaya lemak susu lebih dari 2,8 % maka hijauan diberikan 40 % dari total bahan kering ransum

Ransum Sapi kering
 60 hari sebelum beranak pemberian konsentrat dihentikan
 ambing diberi minyak sesering mungkin dan jangan diperah
 setelah satu minggu ambing menjadi lunak kemudian air susu dalam ambing dikeluarkan semua
 3 minggu pertama setelah susu berhenti keluar diberi hijauan berkualitas tinggi tanpa konsentrat
 sekitar lima minggu sebelum beranak sapi diberi konsentrat dua hari sekali dengan jumalh yang disesuaikan dengan komoditi ternak. Ternak kurus 6-8 kg/hari
 pada 7-10 hari sebelum beranak konsentrat yang diberikan 1,5 kg BK/ 100 kg bobot badan, setelah beranak pemberian konsentratharus disesuaikan dengan tingkat produksi air susu

Bobot badan sapi (kg) Tambahan bobot badan (kg)
350-450 40-65
450-550 65-90
550-650 90-120





Ingat 3 T!!!!
Teliti, Telaten dan Terampil !
Formulasi mudah dan kunci keberhasilan beternak !
(nida hutama_smkn 1 Plosoklaten)

Rabu, 04 Agustus 2010

Pengelolaan Pakan pada Ternak Ruminansia

NUTRISI – BAHAN PAKAN –TEKNIS PENYAJIAN PAKAN
- Aspek Pengelolaan Pakan pada Ternak Ruminansia -


I. Pendahuluan
Untuk dapat melakukan aktivitas pokok dan produksi, ternak memerlukan pakan. Bahan-bahan yang dapat dipergunakan sebagai pakan terdapat bermacam-macam, bersumber dari nabati ataupun hewani. Bagaimana cara pemberian dan berapa jumlah yang diberikan tergantung antara lain pada : species, umur, status fisiologi, tujuan dan tingkat produksi, dan kondisi lingkungan.
Faktor utama yang menjadi pertimbangan pada pemberian pakan adalah species atau jenis ternak. Setiap species mempunyai karakteristik pada anatomi dan fisiologi, terutama fisiologi pencernaan. Pemahaman masalah fisiologi pencernaan akan membantu menyesuaikan antara pakan yang dapat diberikan dan pemenuhan zat nutrisi yang dibutuhkan ternak. Untuk ternak sapi, tentunya akan dibutuhkan pakan dimana jenis dan komposisinya yang sesuai dengan anatomi dan fisiologi pencernaan yang dimiliki.
Pengetahuan tentang bahan-bahan pakan dan pakan yang siap diberikan kepada ternak dianggap belum cukup sebelum mengetahui kandungan nutrisi didalamnya. Seperti ternak pada umumnya, pada ternak sapi juga membutuhkan bahan pakan yang memiliki komposisi zat nutrisi yang berguna untuk menunjang kehidupan dan berproduksi.
Tuntutan yang semakin tinggi terhadap peningkatan, stabilitas serta kontinyuitas dalam berproduksi; mengarah pada perkembangan teknologi pakan yang tidak hanya memerlukan ketepatan komposisi bahan baku tetapi diperlukan juga ketelitian dalam komposisi dan keseimbangan zat nutrisi. Sehingga untuk menyusun suatu komposisi pakan yang tepat diperlukan juga pengetahuan dalam mengevaluasi suatu bahan pakan, tidak hanya dalam hal kondisi fisik tetapi juga kondisi zat nutrisi yang terkandung. Dengan evaluasi yang tepat terhadap bahan pakan maka akan dapat tercapai tujuan untuk membuat pakan/ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak dan memberikan keuntungan yang maksimal melalui konversi pakan yang serendah-rendahnya.
Oleh karena itu perlu diketahui dan dipahami terlebih dahulu pembagian/fraksi pakan (Zat Makanan / Zat Nutrisi) dan bahan pakan, dengan tujuan untuk memberikan dasar pemahaman dalam melakukan evaluasi sehingga dapat disajikan ransum yang ideal bagi ternak.

II. NUTRISI
Zat makanan atau zat nutrisi adalah penyusun bahan pakan yang umumnya mempunyai komposisi kimia yang serupa untuk keperluan hidup. Sesuai dengan komposisi kimia utama tubuh ternak, maka suatu bahan yang akan digunakan sebagai bahan pakan memiliki salah satu atau seluruh fraksi seperti dibawah ini.
Protein
Air Lemak
Pakan Organik Karbohidrat
Vitamin

Bahan Kering
An-Organik - Mineral

Setelah dikonsumsi oleh ternak, setiap unsur nutrisi berperan sesuai dengan fungsinya terhadap tubuh ternak untuk mempertahankan hidup dan berproduksi secara normal. Zat nutrisi yang perlu diperhatikan pada ternak ruminansia adalah : bahan kering (BK), energi, protein, mineral, dan vitamin. Unsur-unsur nutrisi tersebut dapat diketahui melalui proses analisis terhadap bahan pakan yang dilakukan di laboratorium.
2.1. Analisis Proksimat
Analisis proksimat terhadap bahan pakan akan menghasilkan data-data tentang nutrisi yang terkandung dalam bahan pakan tersebut dan berapa besar konsentrasinya. Data-data ini akan membantu kita mempersiapkan dan mengelola pakan ternak, terutama dalam meramu bahan pakan yang dibutuhkan oleh ternak sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
2.2. Pertukaran Nutrisi
Ketika pakan memasuki rumen ternak ruminansia, pada keadaan normal semua unsur nutrisi yang terkandung didalam ransum ternak akan mengalami pertukaran yang menghasilkan beberapa produk fermentasi yang siap dicerna. Ransum adalah pakan yang diberikan kepada ternak selama 24 jam, dengan jumlah pemberian satu atau beberapa kali. Pertukaran nutrisi dapat menghasilkan produk pencernaan yang optimal bila ransum yang diberikan dalam keadaan seimbang. Ransum seimbang adalah ransum yang diberikan selama 24 jam, yang mengandung semua zat makanan dalam kuantitas, kualitas serta perbandingan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi ternak sesuai dengan tujuan pemeliharaan. Oleh karena itu bahan pakan yang digunakan merupakan bahan pakan yang sesuai dengan karakter sistem pencernaan ternak. Bahan pakan adalah segala bahan yang dapat dimakan, disukai, dapat dicerna sebagian atau seluruhnya, bermanfaat serta tidak berbahaya atau mengganggu kesehatan ternak.
2.3. Fungsi, Sumber dan Distribusi
a. Bahan Kering (BK)
Bahan kering merupakan unsur nutrisi yang sangat penting dalam pemberian pakan pada ternak ruminansia. Peternak perlu mengetahui perkiraan jumlah pakan yang layak diberikan, karena pemberian yang tidak tepat akan merugikan. Kandungan BK suatu pakan harus diketahui secara tepat, karena diharapkan ternak dapat kenyang oleh BK dan bukan oleh air. Apabila menyusun ransum dari beberapa bahan maka hasus dihitung terlebih dahulu dalam dasar BK (Dry Matter Basis), kemudian dikonversikan ke bahan segar (As Fed). Konsumsi BK untuk ternak ruminansia adalah sekitar 2-3 % dari bobot badan dan dipengaruhi oleh faktor : bobot badan, macam bahan pakan, umur dan kondisi ternak, kadar energi bahan pakan, stress, jenis kelamin.
b. Energi
Energi merupakan sumber tenaga bagi semua proses hidup dan produksi. Energi diperoleh dari proses oksidasi karbohidrat, lemak, protein. Energi pada ternak ruminansia diperoleh dari proses fermentasi bahan pakan oleh mikroba rumen menjadi asam-asam lemak (VFA = Volatyl Fatty Acids) yaitu asam asetat, asam propionat, asam butirat, dan asam valerat. Perbandingan antara asam-asam lemak tersebut penting dalam penentuan produksi ternak ruminansia. Dalam hal ini perbandingan pemberian hijauan dan konsentrat merupakan salah satu faktor yang menentukan. Untuk penggemukan lebih disukai ransum dengan kandungan konsentrat yang lebih tinggi karena akan lebih mengarah pada pembentukan asam propionat sehingga lebih mengarah dalam pembentukan daging.
c. Air
Air merupakan unsur nutrisi terpenting dan mutlak dibutuhkan oleh makhluk hidup. Unsur air mengisi sel-sel tubuh dengan konsentrasi antara 70% hingga 90%. Oleh karena itu, pembatasan konsumsi unsur air akan memperpendek ketahanan hidupnya. Peran penting unsur nutrisi air adalah : sebagai bahan pelarut, sebagai media transportasi masuknya unsur-unsur lain kedalam tubuh dan pengeluarannya dari sel-sel tubuh, sebagai media transportasi sisa-sisa metabolisme, sebagai pengatur temperatur.
Berdasarkan sumbernya, air dapat diperoleh ternak melalui pakan yang dikonsumsinya dan dalam bentuk air minum. Jumlah air yang dibutuhkan ternak sangat bervariasi tergantung dari jenis ternak, temperatur lingkungan, jumlah konsumsi pakan, jenis dan macam pakan, kelembaban nisbi udara, dan tingkat produksi ternak. Rata-rata kebutuhan air sekitar 3 - 8,5 liter per kg BK yang dikonsumsi.


d. Mineral
Unsur-unsur yang termasuk dalam nutrisi ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok mineral makro (Ca, Cl, Mg, P, K, Na, S) dan kelompok mineral mikro (Co, Cu, Fe, I, Mn, Mo, Se, Zn). Ternak yang kekurangan unsur mineral dapat diketahui dari tanda-tanda abnormal, terutama pada tempat-tempat mineral didistribusikan. Sebagai contoh, ternak yang kekurangan unsur Ca dan P akan mengalami kelumpuhan dan kerapuhan tulang. Demikian juga, ternak yang kekurangan unsur Co akan mengalami kekurangan vitamin B-12 pada tubuhnya yang dapat diketahui dengan mudah karena terjadi pemudaran warna kulit dan matanya berair.
e. Protein
Protein merupakan unsur nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh ternak dalam jumlah relatif lebih besar, terutama ternak yang sedang dalam masa pertumbuhan, bunting dan menyusui.
Berdasarkan sumbernya, protein dibedakan menjaid dua golongan, yaitu golongan protein yang berasal dari tanaman (dikenal dengan istilah protein nabati) dan golongan protein yang berasal dari tanaman (dikenal dengan istilah protein hewani). Kedua golongan protein tersebut didalam alat pencernaan ternak ruminansia (rumen) dihidrolisis oleh bakteri rumen menjadi asam amino yang selanjutnya mengalami perubahan menjadi asam organik, amonia, dan CO2. Amonia akan digunakan bakteri dalam mensintesis protein mikrobia yang kemudian dicerna oleh ternak ruminansia didalam perut yang sebenarnya, yaitu abomasum.
Jadi, berbeda dengan ternak lain, ternak ruminansia kebutuhan asam amino bukanlah merupakan hal yang utama. Kebutuhan unsur nitrogenlah yang merupakan hal utama. Kekurangan unsur nutrisi protein cenderung mengalami hal-hal sebagai berikut : pertumbuhan terhambat, konversi pakan tinggi, pengurasan nitrogen tubuh, berat lahir rendah, produktivitas turun, fertilitas rendah
f. Lemak
Lemak dalam tubuh ternak berfungsi sebagai penghasil asam-asam lemak dan energi. Unsur nutrisi ini dicerna menjadi asam-asam lemak dan gliserol yang kemudian sebagian akan dirubah menjadi energi, sedangkan sebagian lainnya disimpan sebagai lemak tubuh yang akhirnya akan menghasilkan asam amino non esensial. Pencernaan dan penyerapan lemak pada saluran pencernaan ternak ruminansia berlangsung didalam usus halus dengan bantuan enzim-enzim dari pankreas dan empedu yang berstruktur basa sehingga dapat menetralkan suasana asam.
g. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan unsur nutrisi yang sebagian besar (50 - 80%) mengisi konsentrasi bahan kering tanaman makanan ternak. Strukturnya terdiri dari selulose, hemiselulose, dan lignin.
Didalam tubuh ternak ruminansia, karbohidrat dicerna dengan bantuan enzim yang diproduksi oleh bakteri. Kemudian, hasil fermentasinya yang berupa asam-asam lemak langsung diserap tubuh ternak melalui dinding rumen. Asam-asam lemak tersebut dikenal dengan sebutan asam piruvat, formiat, asetat, laktat, butirat, dan propionat.
h. Vitamin
Beberapa unsur vitamin dapat diproduksi oleh tubuh ruminansia melalui bakteri di dalam rumen, tetapi karena jumlah produksinya yang sangat terbatas maka tidak dapat mencukupi kebutuhan ternak. Oleh karena itu, keberadaannya didalam pakan tetap diharapkan karena jika kurang akan menyebabkan fungsi tubuh ternak terganggu.
Unsur vitamin dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok vitamin yang larut didalam air (vitamin Bkompleks dan C) dan kelompok vitamin yang larut didalam lemak (vitamin A, D, E, dan K). Ternak ruminansia membutuhkan vitamin A lebih banyak dibanding ternak non ruminansia, karena adanya mikroba rumen dapat merusak vitamin A.
Kebutuhan vitamin ternak ruminansia sangat bervariasi, tergantung pada umurnya dan sesuai dengan fungsi tubuhnya. Misalnya, ternak ruminansia muda lebih banyak membutuhkan vitamin Bkompleks daripada ternak dewasa karena rumen pada ternak ruminansia muda belum dapat mensintesisnya sendiri. Berdasarkan fungsinya secara umum, vitamin berperan dalam : absorbsi unsur mineral, penimbunan zat kapur (Ca) didalam tulang, penimbunan karbohidrat didalam hati dan sel – sel tubuh, pemisahan protein melalui ginjal, oksidasi lemak dan karbohidrat dalam mensuplai energi.

III. BAHAN PAKAN
Ternak sapi merupakan hewan ruminansia dengan alat pencernaan lambung yang terbagi atas empat bagian, yakni rumen retikulum, omasum, danm abomasum. Dengan alat ini, sapi mampu menampung jumlah bahan pakan yang lebih besar dan mampu mencerna bahan pakan yang kandungan serat kasarnya tinggi. sehingga pakan pokok hewan ini berupa hijauan atau rumput dan pakan penguat sebagai tambahan. Bahan pakan ternak sapi pada pokoknya bisa digolongkan menjadi tiga, yakni : pakan hijauan, pakan penguat, dan pakan tambahan.
3.1. Pakan Hijauan (bahan pakan kasar)
Bahan ini merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia. Pakan hijauan ialah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting, dan bunga. Yang termasuk kelompok pakan hijauan ialah bangsa rumput (gramineae), kacang-kacangan (legume), daun-daunan, dan limbah pertanian. Semuanya bisa diberikan dalam dua bentuk, yakni hijauan segar atau kering. Yang termasuk hijauan segar adalah hijauan yang diberikan dalam keadaan masih segar, ataupun berupa silase. Sedangkan hijauan kering bisa berupa hay (hijauan yang sengaja dikeringkan) ataupun jerami kering (sisa hasil ikutan pertanian yang dikeringkan). Hijauan sebagai bahan pakan ternak sapi di Indonesia memegang peranan yang amat penting karena hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan. Bahan ini diberikan dalam jumlah yang besar.yang diperlukan hewan. Bahan pakan kasar berfungsi sebagai sumber energi, stimulus fisik bagi perkembangan kapasitas rumen, dan stimulus kimia bagi perkembangan papilla rumen.
3.2. Pakan Penguat (pakan konsentrat)
Pakan penguat adalah pakan yang berkonsentrasi tinggi dengan kadar serat kasar yang relatif rendah dan mudah dicerna. Fungsinya adalah meningkatkan dan memperkaya (pelengkap) nilai gizi pada bahan pakan lain (hijauan) yang nilai gizinya rendah. Bahan pakan penguat ini meliputi konsentrat sumber energi (bekatul, dedak, pollard, gaplek, tapioka, onggok, empok, molases, jagung, sorghum, dll.) dan konsentrat sumber protein (bungkil kedele, bungkil kelapa, bungkil biji kapuk, bungkil kacang, tepung ikan, dll.)
Ternak sapi yang sedang tumbuh ataupun yang sedang dalam periode penggemukan harus diberikan pakan penguat yang cukup, oleh karena itu pada sistem dry lot fattening diberikan justru sebagian besar pakan berupa pakan penguat atau konsentrat.
3.3. Pakan tambahan (pakan additive)
Pakan tambahan bagi ternak sapi biasanya berupa : vitamin, mineral, dan urea (Nutrient additive); antibiotika, hormon, enzim, dan probiotik (Non Nutrient additive). Pakan tambahan ini seringkali digunakan pada sapi yang dipelihara secara intensif, yang hidupnya berada di dalam kandang terus menerus.
Vitamin yang dibutuhkan ternak sapi adalah vitamin A (karotina) dan vitamin D. Sedangkan mineral sebagai bahan pakan tambahan dibutuhkan untuk berproduksi, terutama Ca dan P. Tepung tulang (sumber Ca dan P), kapur biasa atau kapur tembok (CaCO3) (sumber Ca), dicalcium phosphat / kapur makan (sumber Ca dan P) bisa diberikan kepada sapi. Pada umumnya pakan tambahan vitamin dan mineral berupa feed–supplement / vit-min mix.
Urea sebagai bahan pakan tambahan hanya bisa diberikan kepada sapi dalam jumlah yang sangat terbatas, yakni 1-2 % (maksimal) dari BK ransum. Jika terlalu banyak, sapi bisa keracunan. Urea mengandung 45% N. Penggunaannya harus diimbangi ketersediaan bahan pakan yang kaya karbohidrat (bekatul, tetes, gaplek).
Penggunaan antibiotika (mis : chlortetracyclin, oxytetracyclin, penicilin) dalam usaha peternakan sudah cukup meluas. Antibiotika pada dasarnya bukanlah makanan dan efek terhadap makanan adalah sekunder. Mekanisme kerja antibiotika cukup menguntungkan bila diberikan/ditambahkan dalam makanan sapi. Dalam upaya untuk mempercepat produksi daging sapi, juga banyak digunakan hormon pertumbuhan dalam penggemukan sapi. Hormon sintetis stilbestrol dalam aplikasinya memberikan efisiensi pakan yang lebih baik. Pada saat ini juga telah berkembang pemanfaatan probiotik pada ternak ruminansia. Probiotik merupakan alternatif dalam metode manipulasi fungsi saluran pencernaan. Aplikasi dilapang membutuhkan pertimbangan ekonomis mengingat nilai manfaat yang belum teruji secara luas.

IV. TEKNIS PENYAJIAN PAKAN
4.1. Evaluasi Pakan
Pengetahuan terhadap bahan pakan dan fraksi nutrisi yang terkandung merupakan modal dasar bagi peternak dalam menyusun ransum yang baik dan tepat bagi tujuan pemeliharaan. Namun untuk melengkapinya, peternak diharapkan dapat melakukan tahapan evaluasi terhadap bahan pakan yang akan digunakan. Beberapa aspek yang dilakukan dalam mengevaluasi pakan adalah evaluasi terhadap : bahan pakan, proses pembuatan pakan/ransum, respon ternak terhadap formulasi ransum, dan validitas hasil evaluasi. Aspek evaluasi yang penting diperhatikan peternak adalah :
a. Sifat dan karakteristik bahan
# Komposisi kimia
Untuk mengetahui komposisi kimia suatu bahan dapat dilakukan beberapa cara, antara lain : studi literature (dengan melihat pada tabel komposisi bahan makanan yang telah tersedia luas) dan analisis laboratorium. Tujuan dilakukan 2 hal tersebut adalah :
o Mengetahui kandungan zat nutrisi dengan lebih tepat setelah mengalami prosesing, penyimpanan, dan transportasi.
o Mengetahui kemurnian bahan (menghindari pemalsuan).
o Quality and Price Control (Kontrol kualitas dan Harga).
o Mengetahui keseimbangan zat nutrisi.
Khususnya pada pengadaan bahan pakan asal lokal, karena sifat pengadaan yang fluktuatif (seasonal) dan sebagian besar menggunakan teknologi sederhana maka analisa terhadap komposisi kimia menjadi sangat penting dan frekuensinya diupayakan lebih tinggi.
# Teknologi produksi bahan baku
Asal bahan baku perlu mendapat perhatian, dalam hal ini dapat membantu dalam menentukan kelas bahan terkait dengan kandungan zat nutrisi tertentu. Sebagai contoh adalah :
- bungkil kelapa yang dihasilkan dari proses ekstruder (mekanis) akan mengandung lemak yang lebih tinggi daripada bungkil kelapa dengan proses solvent.
- dedak padi, bekatul dari proses mesin Huller model tertentu lebih banyak mengandung sekam, dengan komposisi sekam yang tinggi akan mengurangi kualitas.
# Toksisitas / sifat racun
Suatu bahan pakan dapat terkontaminasi oleh racun akibat proses yang tidak benar dalam bahan baku. Kandungan zat yang bersifat racun dapat secara alami terkandung pada beberapa bahan, oleh karena dibutuhkan perlakuan terlebih dahulu.
# Anti nutrisi
Beberapa bahan baku terutama asal nabati biasanya mengandung zat anti nutrisi. Penurunan zat anti nutrisi dapat dilakukan dengan prosesing, namun seringkali proses yang tidak sempurna terjadi dan hal ini akan dapat menurunkan kualitas pakan/ransum secara keseluruhan.


# Batasan penggunaan
Kondisi-kondisi specifik pada beberapa bahan menuntut perhatian, terutama dalam kontribusi penggunaan dalam ransum. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, dapat digunakan beberapa ketentuan terkait dengan batasan penggunaan dalam pakan.
b. Suplai dan ketersediaan
Salah satu persyaratan atau pertimbangan penggunaan bahan baku pakan adalah kontinyuitas dan stabilitas suplai serta ketersediaannya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan suplai dan ketersediaan bahan adalah :
o Kuantitas : terkait dengan kontinyuitas produksi pakan.
o Kualitas : terkait dengan stabilitas formulasi pakan.
o Musim : faktor ini sangat terkait dengan kuantitas dan kualitas bahan.
c. Harga
Harga suatu bahan baku dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi yang ada, seperti :
- suplai, terkait musim dan proses pengadaan
- kualitas bahan, terkait dengan kandungan zat nutrisi, dll.
Penentuan tinggi atau rendah harga suatu bahan, selain dalam bentuk nilai persatuan berat (Harga Absolut) juga dapat ditentukan berdasarkan kandungan zat nutrisi (Harga Relatif). Dengan cara penentuan harga tersebut, dimungkinkan untuk membandingkan harga bahan dengan lebih tepat.

4.2. Formulasi Ransum
Beberapa metode/teknik pencampuran telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Pada prinsipnya pembuatan pakan merupakan salah satu upaya menekan biaya pakan yang merupakan 70 % dari total biaya produksi. Beberapa petunjuk umum dalam menyusun ransum untuk sapi yang digemukkan yaitu ;
(a) Konsumsi BK : 2, 5 – 3 % bobot badan.
(b) Pakan konsentrat diberikan 2 % bobot badan, sisanya adalah pakan hijauan.
(c) Konsentrat sebagai pakan penguat mengandung protein kasar (PK) minimal 17 %, 2500 Kcal energi, dan 12 % serat kasar.
(d) Penggunaan pakan lengkap mengandung PK : 10 – 13 %, TDN : 71 – 78 %, ME : 2,61 – 2,82 Mcal/kg, NEg : 1,0 – 1,2 Mcal/kg, Ca : 0,22 – 0,6 %, P : 0,22 – 0,4 %, Vit A : 2,2 IU/mg.
(e) Karena kebutuhan protein yang relatif rendah, sebaiknya sapi yang digemukkan mulai umur 2 tahun.
(f) Mineral dapat diberikan sampai dengan 1,0 % dalam ransum.
(g) Level penambahan garam dalam ransum adalah 0,45 % BK ransum.
(h) Penggunaan urea dapat dilakukan dengan memperhatikan aturan pemberian.

4.3. Langkah-langkah Formulasi Ransum
a. Tabel Komposisi Kebutuhan Zat Makanan dan Bahan Pakan
Peternak sapi yang melakukan penggemukan sebaiknya mempertimbangkan zat nutrisi yang dibutuhkan, pertambahan bobot badan (PBB) yang diinginkan, dan jumlah yang dibutuhkan untuk mencapai target bobot badan.
b. Metode Perhitungan
Sebagai metode yang dapat dianggap praktis, untuk peternak rakyat dapat menggunakan metode yang cukup mudah diaplikasikan, yaitu : Metode Segi Empat (Pearson’s Square Method). Metode ini sangat praktis dan sederhana, terutama untuk peternak yang mencampur beberapa bahan baku pakan atau campuran yang terdiri maksimal 4 bahan. Dengan metode ini akan diketahui jumlah bahan pakan yang dibutuhkan sekaligus mengetahui kandungan/kualitas nutrisi pakan campuran, tetapi harus didasari dengan pengetahuan tentang bahan yang baik.
c. Target Formulasi Ransum Individu dan Massal
Jumlah sapi yang dipelihara memerlukan konsentrasi tertentu pada peternak dalam menyusun ransum.
 Formulasi secara Individu
Bila jumlah tidak terlalu banyak (5 – 10 ekor), maka peternak dapat menentukan terlebih dahulu kemampuan masing-masing sapi (per ekor) dalam mengkonsumsi BK.
Kemudian dilanjutkan dengan :
a. Penentuan komposisi konsentrat dan hijauan dalam ransum.
b. Menghitung kemampuan masing-masing bahan pakan untuk menyediakan zat nutrisi yang diperlukan, misalnya : PK dan Energi.
c. Membandingkan kemampuan ransum hasil formulasi dengan tingkat kebutuhan zat nutrisi yang dibutuhkan sesuai dengan target pemeliharaan.
d. Bila terjadi kekurangan (misalnya : pada kebutuhan PK) maka diperlukan bahan tambahan untuk melengkapinya.
 Formulasi secara massal
Bila jumlah yang dipelihara bersifat massal, peternak dapat menyusun konsentrat yang
disesuaikan dengan umur sapi yang digemukkan seperti tabel sebagai berikut :
Umur sapi PK (%) (dasar BK) TDN (%) (dasar BK)
< 1 tahun 15 – 16 65 – 70
1 – 2 tahun 13 – 14 70 – 75
> 2 tahun 10 – 12 75 – 85
Dapat juga ditentukan ransum setelah dilakukan pengelompokkan sapi berdasarkan umur dan bobot badan awal pemeliharaan, sehingga dapat juga dilakukan penghitungan seperti pada formulasi secara individu.

4.4. Evaluasi Formulasi
Seringkali peternak merasa puas dengan formulasi ransum yang dibuat dan memperkirakan target produksi yang akan dicapai selama pemeliharaan. Dalam hal ini peternak seharusnya tetap melakukan evaluasi terhadap ransum yang diberikan pada ternak. Evaluasi dapat dilakukan dengan :
(a) Kontrol secara berkala kualitas bahan pakan dan ransum yang diformulasikan.
(b) Menghitung potensi formulasi ransum terhadap PBB yang dihasilkan.
(c) Mengukur respon ternak terhadap ransum, dengan melakukan sampling pengukuran BB berkala setiap bulan.

4.5. Teknis Penyajian Pakan
Sapi yang digemukkan harus memperoleh ransum yang terdiri dari bahan konsentrat dan hijauan. Pemberian konsentrat dan hijauan harus diatur sedemikian rupa sehingga memberikan manfaat ransum yang maksimal. Pemberian pakan merupakan bagian aspek manajemen, namun manajemen pemberian pakan sangat terkait dengan aspek nutritif pakan yang berhubungan erat dengan mekanisme kerja alat pencernaan sapi sebagai ternak ruminansia. Ditinjau dari aspek nutritif dan efisiensi maka penyajian pakan dibedakan menjadi :


1. Sistem penyajian pakan selama pemeliharaan
Sistem penyajian pakan selama pemeliharaan menitik beratkan pada permasalahan adaptasi dan respon sapi terhadap jenis dan kualitas pakan yang diberikan, serta membedakan fase penggemukan awal (starting) dan akhir (finishing). Penerapan sistem ini memungkinkan dilakukan seleksi sapi secara berkala terutama pada pemeliharan massal. Prinsip yang digunakan adalah pemberian secara bertahap penggunaan pakan konsentrat yang konsentrasinya semakin tinggi terhadap pakan hijauan. Contoh sistem penyajian pakan selama pemeliharaan :
Rasio Konsentrat : Hijauan Lama pemberian (hari)
Alternatif 1 Alternatif 2
Konsentrat Hijauan Konsentrat Hijauan Alternatif 1 Alternatif 2
0 100 0 100 4 4
50 50 25 75- 4 2
60 40 50 50 5 2
70 30 60 40 5 5
80 20 70 30 5 5
85 15 80 20 s/d akhir penggemukkan 5
- - 80 15 - s/d akhir penggemukan

2. Sistem penyajian pakan harian
Penyajian pakan harian dapat dilakukan dalam 2 bentuk, yaitu pemberian konsentrat dan hijauan secara terpisah atau dalam bentuk pakan lengkap (complete feed). Pemberian dengan sistem terpisah telah banyak dilakukan peternak sapi potong secara tradisional dan penerapannya sangat bervariasi. Sebagian hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kedua sistem tersebut tidak menunjukkan perbedaan. Namun dalam praktek di lapang, menunjukkan trend pemberian pakan dengan menggunakan bentuk pakan lengkap. Beberapa segi positif penggunaan pakan komplit adalah :
- meningkatkan efisiensi pemberian pakan
- mengurangi sisa pakan
- peningkatan pemanfaatan sumber serat yang kurang disukai sapi
- sapi lebih mudah kenyang dan membatasi konsumsi konsentrat.
Aspek penyajian pakan juga terkait dengan teknis yang dilakukan peternak sebelum pakan diletakkan dalam palungan pakan. Langkah teknis tersebut merupakan bagian dari teknologi yang digunakan pada pakan. Teknologi pakan meliputi kegiatan prosesing/pengolahan pakan yang bertujuan : meningkatkan kesukaan ternak, meningkatkan kualitas nutrisi, meningkatkan daya cerna, memperpanjang daya simpan, meningkatkan nilai guna limbah pertanian.
Pengolahan bahan pakan dapat dilakukan secara : fisik (mis. : pelayuan dan pemotongan hijauan) dan kimia (mis. : penambahan bahan kimia). Penggunaan teknologi pakan terutama ditingkat peternak sebaiknya mempertimbangkan nilai ekonomis dan tingkat kesulitan dalam aplikasi. Beberapa bentuk teknologi pakan yang mudah dilakukan dilapangan adalah :
1. Pelayuan pada hijauan sebelum diberikan kepada sapi, tujuan : untuk mencegah kemungkinan karacunan pada ternak, mengurangi kemungkinan ternak kenyang oleh air.
2. Pemotongan hijauan, tujuan : meningkatkan konsumsi, mengurangi seleksi pakan, memudahkan dalam penggunaan pakan lengkap.
3. Pembuatan hay, tujuan : meningkatkan kualtas BK, meningkatkan daya simpan.
4. Peningkatan kualitas jerami padi dengan : perlakuan amoniasi, penambahan tetes tebu.
5. Pembuatan pakan pemacu, tujuan : merangsang peningkatan konsumsi serat kasar, meningkatkan populasi mikroba, pemacu pertumbuhan; contoh : Urea Molases Block (UMB)


Tabel 1. Komposisi kimia beberapa bahan pakan konsentrat
Bahan Pakan BK (%) % dari BK
PK SK LK BETN TDN NEm Neg
Dedak padi kasar 87,5 13,8 8,4 9,4 54,3 55 1,3 0,7
Pollard 88,4 17 8,8 5,1 45,0 70 1,56 0,99
Jagung kuning 89,1 10,8 3,1 4,7 78,9 90 2,11 1,39
Dedak jagung 84,8 8,5 1,5 9,0 63,8 82 2,12 1,4
Gaplek 85,2 2,3 2,8 0,2 78,7 78 1,31 0,7
Ampas bir 85,8 33,7 19,2 6,1 37,1 74 - -
Bungkil kelapa 87,9 21,2 13,1 17,3 41,1 81 1,74 1,13
Bungkil biji kapuk 86,0 30,9 - - - 63,3 1,37 0,77
Bungkil kedele 88,6 41,3 8,6 15,0 21,9 83,2 1,84 1,23
Onggok 88,7 1,8 11,0 0,2 74,1 85 - -
Kulit buah kakao 88,9 14,6 33,0 11,8 34,9 47 - -
Tetes 87,5 1,8 11,0 0,2 74,1 85 2,57 1,57


Tabel 2. Komposisi kimia beberapa hijauan pakan ternak
Bahan Pakan BK (%) % dari BK
PK SK LK BETN TDN NEm NEg
Rumput lapangan 21,8 6,7 34,2 1,8 44,2 56,2 1,46 0,88
Rumput gajah 21,0 9,6 32,7 1,9 45,2 52,4 0,98 0,15
Rumput raja 22,4 13,5 34,1 3,5 30,3 57,0 1,1 0,8
Daun jagung 21,0 9,9 27,4 111,8 50,7 - 1,28 0,64
Daun kac. kedele 22,6 16,7 27,7 3,7 41,8 - 2,1 0,63
Daun lamtoro 24,8 24,2 21,5 3,7 43,1 - 1,71 1,1
Pucuk tebu 25,5 5,2 2,0 34,4 50,2 - - -
Daun singkong 21,6 24,1 4,7 22,1 37,0 61,8 1,62 1,05
Jerami padi 87,5 4,2 32,5 1,5 45,0 43,2 1,55 0,97


Tabel 3. Contoh formulasi konsentrat untuk penggemukkan sapi
Bahan pakan Umur awal pemeliharaan -------- Jumlah bahan baku (%)
< 1 tahun 1 - 2 tahun > 2 tahun
Pollard 65.5 68.0 35.0
Dedak padi 25.5 - -
Onggok - 25.0 23.0
Tepung jagung - - 24.0
Bungkil kelapa 7.0 - 16.0
Bungkil biji kapuk - 5.0 -
Garam 1.0 1.0 1.0
Tepung tulang 0.5 0.5 0.5
Kapur 0.5 0.5 0.5
Jumlah 100 100 100
Bahan Kering 88.5 86.8 86.8
Protein Kasar 15.9 13.8 12.4
TDN 68.7 74.1 80.2





Contoh perhitungan :
Seoang peternak ingin menggemukkan seekor sapi jantan dengan BB awal 300 kg dan target PBB yang diharapkan adalah 1,0 kg/hari. Bahan pakan yang tersedia adalah :
- Rumput gajah segar
- Dedak padi
- Pollard
- Garam dapur 100 gr, kapur 50 gr.

Konsumsi BK adalah 3 % BB, yang disediakan oleh hijauan sebesar 1 % dan 2 % dari konsentrat.
Konsumsi BK : 3 % x 300 kg = 9 kg
Konsumsi BK hiijauan : 1 % x 300 kg = 3 kg
Konsumsi BK konsentrat : 2 % x 300 kg = 6 kg

Konsumsi 3 kg BK hijauan menyediakan TDN : 52,4/100 x 3 kg BK = 1,57 kg
Kebutuhan TDN : 5 kg, terdapat kekurangan TDN aebesar : 5 – 1,57 = 3,43, kg
Maka kekurangan 3,43 kg TDN tersebut harus dapat disediakan dari 6 kg BK konsentrat.

Persentase kekurangan TDN : 3,43/6 x 100 % = 57,17 %

Person Square

TDN Dedak padi 55 12,83  12,83/15 x 100 % = 85,5 %
57,17
TDN Pollard 70 2,17  2,17/15 x 100 % = 14,5 %
----------- +
15,0


BK Dedak padi : 85,5/100 x 6 kg = 5,13 kg
BK Pollard : 14,5/100 x 6 kg = 0,87 kg
Jadi jumlah pemberian segar (As Fed) per ekor./hari :
Rumput Gajah : 3 kg BK x 100/21 = 14, 28 kg
Dedak padi : 5,13 kg BK x 100/87,5 = 2,77 kg
Pollard : 0,87 kg BK x 100/88,4 = 0,98 kg

Untuk penggemukan sapi jantan BB 300 kg dan PBB 1,0 kg/hr dibutuhkan PK ransum sebesar 819 gram. Ransum hasil formulasi menyediakan PK sebesar :
Rumput gajah : 3 kg BK x 9/100 = 0,27 kg
Dedak padi : 5,13 kg BK x 10/100 = 0,513 kg
Pollard : 0,87 kg BK x 16/100 = 0,1392 kg
Total PK tersedia = 0,9222 kg = 922,2 gram (berarti tersedia PK dalam jumlah mencukupi)

Sebelum diberikan kepada ternak, dedak padi + pollard + mineral dicampur (mixing) terlebih dahulu sampai homogen.

Jumat, 23 Juli 2010

PERAN MIKROBA RUMEN PADA TERNAK RUMINANSIA

PERAN MIKROBA RUMEN PADA TERNAK RUMINANSIA
Januari 28, 2009 jajo66 5 komentar
Adanya mikroba dan aktifitas fermentasi di dalam rumen merupakan salah satu karakteristik yang membedakan sistem pencernaan ternak ruminansia dengan ternak lain. Mikroba tersebut sangat berperan dalam mendegradasi pakan yang masuk ke dalam rumen menjadi produk-produk sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba maupun induk semang dimana aktifitas mikroba tersebut sangat tergantung pada ketersediaan nitrogen dan energi (Yan Offer dan Robert 1996). Kelompok utama mikroba yang berperan dalam pencernaan tersebut terdiri dari bakteri, protozoa dan jamur yang jumlah dan komposisinya bervariasi tergantung pada pakan yang dikonsumsi ternak (Preston dan Leng 1987).
Mikroba rumen membantu ternak ruminansia dalam mencerna pakan yang mengandung serat tinggi menjadi asam lemak terbang (Volatile Fatty Acids = VFA’s) yaitu asam asetat, asam propionat, asam butirat, asam valerat serta asam isobutirat dan asam isovalerat. VFA’s diserap melalui dinding rumen dan dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh ternak. Sedangkan produk metabolis yang tidak dimanfaatkan oleh ternak yang pada umumnya berupa gas akan dikeluarkan dari rumen melalui proses eruktasi (Barry, Thomson dan Amstrong 1977). Namun yang lebih penting ialah mikroba rumen itu sendiri, karena biomas mikroba yang meninggalkan rumen merupakan pasokan protein bagi ternak ruminansia. Sauvant, Dijkstra dan Mertens (1995) menyebutkan bahwa 2/3 – 3/4 bagian dari protein yang diabsorbsi oleh ternak ruminansia berasal dari protein mikroba.
Kualitas pakan yang rendah seperti yang umum terjadi di daerah tropis menyebabkan kebutuhan protein untuk ternak ruminansia sebagian besar dipasok oleh protein mikroba rumen. Soetanto (1994) menyebutkan hampir sekitar 70 % kebutuhan protein dapat dicukupi oleh mikroba rumen. Namun Orskov, Hughes-Jones dan McDonald (1981) menyatakan bahwa untuk memperoleh hasil produksi yang tinggi, khususnya pada fase fisiologi tertentu, misalnya pada masa pertumbuhan awal, bunting dan awal laktasi, pasok protein mikroba belum mencukupi kebutuhan ternak, sehingga ternak memerlukan tambahan pasok protein dari pakan yang lolos fermentasi di dalam rumen.
Produk akhir fermentasi protein akan digunakan untuk pertumbuhan mikroba itu sendiri dan digunakan untuk mensintesis protein sel mikroba rumen sebagai pasok utama protein bagi ternak ruminansia. Menurut Arora (1989) sekitar 47 sampai 71 persen dari nitrogen yang ada di dalam rumen berada dalam bentuk protein mikroba.

Kamis, 17 Juni 2010

Modul Hijauan Makanan Ternak

MODUL USAHA TEKNOLOGI
PRODUKSI HIJAUAN MAKANAN TERNAK
DAN INDUSTRI PAKAN TERNAK

SEMESTER I DAN II


















OLEH :
NIDAUL KHUSNA, S.Pt





PROGRAM STUDI PETERNAKAN RUMINANSIA
SMK SPP NEGERI PLOSOKLATEN KEDIRI
2010


USAHA TEKNOLOGI PRODUKSI HIJAUAN MAKANAN TERNAK
DAN INDUSTRI PAKAN TERNAK

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR
Program studi : Peternakan
Program diklat : Produktif
Mata pelajaran : Usaha teknologi produksi HMT dan IPT
Latar belakang : Pakan ternak menempati kebutuhan 60-70% dari seluruh biaya produksi peternakan. HMT secara nasional merupakan komoditas sampingan dan berada pada lahan kelas 2 hingga kelas 3 dengan tingkat kesuburan yang relatif rendah. Tanaman HMT sangat responsive terhadap musim, dimana pada musim kemarau selalu terjadi paceklik hijauan yang pada akhirnya menyebabkan kemerosotan tubuh ternak dan kualitas daging. Permasalahan ini juga dialami oleh industry pakan ternak (IPT) yang menggunakan bahan pangan. Sehingga akan terjadi fluktuasi harga pakan ternak.
Tujuan : Mengembangkan wawasan siswa terhadap pentingnya pakan dalam usaha peternakan :
1. Mengetahui jenis-jenis pakan ternak dan kandungan gizinya
2. Mampu melakukan analisis kebutuhan pakan pada ternak
3. Mampu mengembangkan HMT dan pasture
4. Mampu menyusun dan mencampur ransum ekonomis
5. Mampu menerapkan teknologi pakan
6. Dapat menghitung biaya produksi pakan.
Ruang lingkup : 1. Bahan pakan ternak
2. Hijauan makanan ternak
3. Sistem penggembalaan ternak
4. Teknologi Pakan ternak
5. Analisa biaya pengolahan pakan
Batasan istilah :
1. Bahan pakan ternak : komponen penyusun ransum baik secara mandiri maupun bersama-sama ditinjau dari kualitas dan kuantitas yang dapat diberikan ke ternak tanpa mengganggu kesehatan sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia.
2. Nutrisi/nutrient : kandungan yang terdapat dari suatu zat dalam bentuk protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang berfungsi untuk metabolisme tubuh
3. Bahan kering : komponen dari bahan tanpa atau sedikit kandungan air
4. Protein kasar : suatu senyawa yang mengandung nitrogen
5. Palatabilitas : merupakan bentuk fisik pakan yang meliputi bentuk, warna, bau dan rasa yang menimbulkan daya terik atau selera sehingga mampu meningkatkan konsumsi pakan
6. Bulky : volume pakan yang besar namun kandungan nutrisinya rendah
7. xanthopil : pigmen kuning
8. daya cerna : kemampuan pakan dicerna dalam pencernaan ternak dan dimanfaatkan oleh tubuh ternak
9. anti nutrisi : suatu zat yang dapat menghambat penyerapan zat makanan oleh tubuh ternak
10. bungkil : sisa dari pengolahan biji-bijian yang diambil minyaknya atau sarinya baik secara mekanik maupun manual

IDENTIFIKASI BAHAN PAKAN TERNAK

1. Standar Kompetensi : Siswa mampu Mengidentifikasi bahan pakan ternak beserta kualitas bahan pakan ternak berdasarkan kandungan nutrisinya.

2. Kompetensi Dasar :
a. Mengetahui kualifikasi pakan ternak
b. Identifikasi pakan ternak asal hijauan
c. Identifikasi pakan ternak asal limbah pertanian
d. Identifikasi pakan ternak asal pertanian tanaman pangan
e. Identifikasi pakan ternak asal hasil ikutan pabrik penggilingan biji-bijian
f. Identifikasi pakan ternak asal limbah pabrik
g. Identifikasi pakan jadi
h. Identifikasi bahan pakan ternak asal hewan
i. Identifikasi awetan hijauan dan olahan jerami
j. Identifikasi pakan tambahan

Kualifikasi Pakan Ternak
Pakan Ternak merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam usaha peternakan karena 70 % dari total biaya pemeliharaan ternak berasal dari pakan. Dari berbagai jenis bahan pakan dengan variasi kualitasnya yang cukup besar maka perlu pengetahuan dan pemahaman serta ketrampilan mengevaluasi bahan pakan untuk menyusun ransum ternak yanng seimbang dan serasi sesuai dengan komoditi ternak, tujuan, keadaan dan fase pemeliharaan serta tingkat produksi. Sebagai contoh ternak muda dan ternak dewasa akan membutuhkan asupan nutrisi yang berbeda karena ternak muda merupakan masa pertumbuhan yang membutuhkan kualitas nutrisi lebih baik daripada ternak dewasa demikian pula bahan pakan untuk komoditi ternak ruminansia akan berbeda dengan ternak non ruminansia. Oleh karena itu kualifikasi atau kriteria dari tiap jenis pakan perlu dipelajari sehingga akan memudahkan dalam proses pembuatan pakan ternak.
Sebenarnya bahan pakan yang dikonsumsi ternak tergantung pada komponen penyusun bahan pakan ternak itu sendiri. Sehingga kualitas pakan ditentukan oleh kandungan nutrisi bahan pakan, Seperti bahan pakan asal limbah cenderung mengandung nutrisi yang lebih rendah daripada pakan biji-bijian. Secara umum komponen penyusun bahan pakan dapat digambarkan sebagai berikut:

Air Karbohidrat
Lemak
Bahan Protein
Makanan Bahan organik vitamin
Ternak Bahan kering
Bahan an organik mineral
Berbagai bahan pakan ternak telah dikenal dan dipergunakan sebagai bahan penyusun ransum untuk memenuhi kebutuhan ternak terhadap nutrisi pakan yang dipergunakan untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan, aktifitas, reproduksi maupun produksi ternak seperti yang diharapkan. Bahan pakan ternak dapat dikualifikasikan berdasarkan asal bahan, karakteristik fisik, kimia, maupun penggunaannya. Berikut kualifikasi bahan pakan ternak berdasarkan asalnya:
1. Pakan Ternak Asal Hijauan
2. Pakan Ternak Asal Limbah Pertanian
3. Pakan Ternak Asal Pertanian Tanaman Pangan
4. Pakan Ternak Asal Hasil Ikutan Pabrik Penggilingan Biji-bijian
5. Pakan Ternak Asal Limbah Pabrik
6. Pakan Jadi
7. Pakan Ternak Asal Hewan
8. Awetan Hijauan dan Olahan Jerami
9. Pakan Tambahan

a. Identifikasi Pakan Ternak Asal Hijauan
Hijauan pakan ternak adalah bahan pakan asal tanaman dalam keadaan segar, kering atau yang diawetkan yang digunakan sebagai pakan ternak tanpa mengganggu kesehatan ternak. Karakteristik pakan asal hijauan :
1) Bersifat bulky
2) Serat kasar tinggi > 18 % sehingga daya cerna rendah
3) Energi rendah bila dibandingkan pakan penguat
4) Mineral kalsium dan potassium serta trace mineral tinggi tetapi rendah fosfor
5) Vitamin larut lemak tinggi terutama pada leguminosa
6) Protein leguminosa 20 % dan rumput 12 %

Rumput dan Leguminosa
Hijauan pakan ternak dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu rumput dan leguminosa. Karakteristik rumput secara umum memiliki batang dengan daun-daun dan bulir yang disebut tangkai. Bentuk seperti silinder, umumnya kosong kecuali pada buku-buku yang terdiri dari jaringan padat. Pada bagian tangkai yang kosong antara dua buku terdapat ruas. Pada bagian akar membentuk serabut. Bunga majemuk tumbuh di ujung batang membentuk malai.
Sistematika rumput :
Phylum : Spermatophyta
Sub phylum : Angiospermae
Classis : Monocotyledoneae
Ordo : Glumifora
Familia : Gramineae
Sub familia : Panicoideae
Leguminosa adalah hijauan yang mampu mengikat nitrogen dari udara. Kemampuan mengikat nitrogen tersebut menyebabkan kandungan protein leguminosa lebih tinggi daripada rumput.
Sistematika leguminosa :
Phylum : Spermatophytka
Sub phylum : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Sub ordo : Rosinae
Familia : Leguminosaeae


Gambar 1. kaliandra dan rumput gajah
Tabel 1. kandungan nutrisi beberapa hijauan pakan ternak
No Bahan Pakan Kandungan nutrisi (%)
Protein kasar Serat kasar TDN
1 Rumput Grinting /Cynodon dactylon 12.60 30.90 -
2 Gamal/Gliricidia sepium 25.70 13.30
3 Alang-alang/ Imperata cylindrica 12.20 35.70 42.00
4 Lamtoro/ Leucaena glauca 23.70 18.00 -

Lembar Kerja I
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis

b. Bahan-bahan
1. Macam-macam rumput
2. Macam-macam leguminosa
c. Langkah Kerja
1. Mencari 5 jenis rumput di lahan HMT
2. Mencari 5 jenis leguminosa di lahan HMT
3. Lakukan pengamatan dengan cara melihat bentuknya (batang, daun, akar,bunga, biji, tempat hidup)
4. Mengidentifikasi jenis rumput dan legum yang ada dan mencari nama latin dan negara asalnya
5. Buat laporan hasil pengamatan pada berbagai rumput dan leguminosa yang telah diamati pada saat praktikum

d. Lembar Latihan
1. Siswa membawa rumput atau leguminosa
2. Siswa mengidentifikasi rumput atau leguminosa
3. Siswa menyebutkan nama daerah, nama latin, asal, dan kandungan nutrisi dari rumput dan leguminosa
4. Siswa menyimpulkan klasifikasi rumput dan leguminosa berdasarkan bentuk, tempat hidup, asal, dan kegunaannya

b. Identifikasi Pakan Ternak Asal Limbah Pertanian
Pakan ternak asal limbah pertanian merupakan sisa-sisa tanaman pertanian yang tidak dimanfaatkan oleh manusia biasanya berupa batang dan daun. Pakan asal limbah pertanian ini disebut sebagai jerami yang memiliki kandungan nutrisi rendah karena dipanen umur tua yang mengandung serat kasar tinggi sehingga sulit dicerna oleh ternak.
Pakan ternak asal limbah pertanian dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu foder dan stover. Fodder merupakan bagian dari tanaman jagung atau shorgum yang meliputi batang dan daun, sedangkan stover adalah bagian aerial tanpa biji jagung dan shorgum. Keduanya memiliki kandungan nutrisi yang rendah karena serat kasar tinggi tetapi merupakan pakan yang potensial karena jumlahnya yang melimpah terutama saat panen raya.
Kualitas nutrisi rendah pada limbah pertanian biasanya dipengaruhi oleh faktor tanah, pemupukan, topografi dan iklim. Kandungan nutrisi yang rendah tersebut dapat dioptimalkan dengan suplementasi bahan lain yang serasi sehingga dapat digunakan secara efisien untuk tujuan pemelliharaan ternak
Tabel 2. Kandungan nutrisi limbah pertanian
No Bahan Pakan Kandungan nutrisi (%)
Protein kasar Serat kasar TDN
1 Jerami padi 3.70 35.9 43.1
2 Pucuk tebu 5.60 32.4 54.0
3 Jerami kacang kedelei 11.1 29.9 43.1
Lembar Kerja II
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis
b. Bahan-bahan
1. jerami padi
2. Jerami kedele
3. Pucuk tebu
c. Langkah Kerja
1. Mengamati beberapa jerami dengan cara melihat bentuknya (tekstur, warna dan ciri khas dari masing-masing jerami)
2. Mengidentifikasi jenis jerami yang ada dan mencari nama latin dan negara asalnya
3. Buat laporan hasil pengamatan pada berbagai rumput dan leguminosa yang telah diamati pada saat praktikum
d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi beberapa jerami
3. Siswa menyebutkan nama daerah, nama latin, asal, dan kandungan nutrisi dari jerami
4. Siswa menyimpulkan kualitas dari beberapa jerami


c. Identifikasi Pakan Ternak Asal Pertanian Tanaman Pangan
Pakan ternak asal pertanian tanaman pangan pada umumnya ketersediaannya bersaing dengan kebutuhan manusia sehingga harganya fluktuatif.
Jagung
Salah satu pakan ternak asal tanaman pangan adalah jagung. Jagung banyak digunakan sebagai bahan makanan sumber energi terutama untuk ransum unggas. Jagung mengandung energi metabolis yang cukup tinggi , tetapi rendah asam amino lisin dan triptophan. Selain itu jagung kuning mengandung xantophil yang dapat mempengaruhi warna produk unggas. Kualitas jagung yang digunakan tergantung pada varietas, penanaman dan pengolahan pasca panen.
Shorgum
Shorgum dapat digunakan sebagai pengganti jagung karena memiliki kandungan nutrisi yang sama dengan jagung dan tahan kekeringan. Kandungan seratnya yang rendah sehingga mudah dicerna ternak, tetapi kandungan lemak dan kalsium lebih rendah dan tidak mengandung vitamin D. Penggunaan shorgum untuk pakan lebih baik disertai bahan pakan sumber protein yang berkualitas baik karena untuk mengimbangi kekurangan asam amino lisin dan treonin.
Gandum
Gandum merupakan bahan pakan sumber energi yang kaya fosfor tetapi rendah kalsium dan riboflavin. Tidak mengandung vitamin A tetapi kaya niasin dan tiamin. Gandum sangat mudah dicerna sehingga penggunaannya pada ternak ruminansia perlu diperhatikan karena penggunaan berlebihan dapat menyebabkan acidosis.
Tabel 3. kandungan nutrisi bebrapa bahan pakan asal tanmanan pangan
No Bahan Pakan Kandungan nutrisi (%)
Protein kasar Serat kasar TDN
1 Jagung 8.90 2.20 69.0
2 Sorgum 9.60 2.40 69.0
3 Gandum 11.7 3.00 68.0

Lembar Kerja III
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis

b. Bahan-bahan
1. jagung
2. Shorgum
3. Gandum

c. Langkah Kerja
1. Mengamati jagung, gandum dan shorgum dengan cara melihat bagian bijinya (tekstur, warna dan ciri khas dari masing-masing biji)
2. Mengidentifikasi macam biji yang ada dan mencari nama latin dan kandungan nutrisinya
3. Buat laporan hasil pengamatan pada berbagai biji yang telah diamati pada saat praktikum

d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi jagung, gandum dan shorgum
3. Siswa menyebutkan nama daerah, nama latin, asal, dan kandungan nutrisi dari biji-bijian tersebut
4. Siswa menyimpulkan kualitas dari jagung, gandum dan shorgum


d. Identifikasi Pakan Ternak Asal Hasil Ikutan Pabrik Penggilingan Biji-bijian
Hasil Ikutan Penggilingan Padi
Pakan ternak asal hasil ikutan pabrik penggilingan biji-bijian biasanya berupa sekam, dedak kasar, dedak halus dan bekatul. Sekam merupakan kulit terluar dari biji padi, teksturnya yang keras merupakan susunan serat kasar yang tinggi sehingga daya cerna rendah namun kandungan vitamin B12 cukup tinggi. Dedak kasar merupakan hasil penumbukan atau penggilingan yang pertama yang terdiri dari pecahan sekam dan kandungan nutrisi yang rendah. Dedak halus (lunteh) merupakan bagian yang terdiri atas selaput beras perpaduan antara dinding buah dan dinding biji serta pecahan-pecahan lembaga dan kulit gabah. Dedak halus mengandung vitamin dan niasin yang tinggi tetapi mudah tengik karena kandungan lemaknya yang cukup tinggi. Bekatul merupakan hasil samping dari penggilingan yang terakhir berupa bagian endosperm, selaput lembaga dan tidak mengandung kulit gabah dan mudah sekali tengik karena kandungan lemak yang sangat tinggi.

Hasil Ikutan Penggilingan Jagung
Selain hasil penggilingan padi hasil ikutan penggilingan jagung dapat digunakan sebagai bahan pakan berupa dedak jagung. Dedak jagung terdiri dari lapisan luar biji jagung mencakup kulit dan ujung tudung dengan sedikit bagian pati lembaganya. Kandungan nutrisi dedak jagung memiliki protein yang lebih rendah daripada biji jagung.
Tabel 4. kandungan nutrisi bahan pakan ternak asal hasil ikutan pabrik penggilingan biji-bijian
No Bahan Pakan Kandungan nutrisi (%)
Protein kasar Serat kasar TDN
1 Dedak halus 13.80 11.60 81.00
2 Dedak kasar 6.800 29.90 -
3 Dedak jagung 11.30 5.000 81.00

Lembar Kerja IV
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis
b. Bahan-bahan
1. Ampas tahu
2. Molases
3. Bungkil kedele
4. Bungkil kelapa
5. Bungkil biji kapas

c. Langkah Kerja
1. Mengamati beberapa bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein dengan cara melihat bentuknya (tekstur, warna dan bau)
2. Mengidentifikasi bahan pakan yang ada dan mencari asal dihasilkannya bahan pakan tersebut dan kandungan nutrisinya
3. Buat laporan hasil pengamatan pada bahn pakan yang telah diamati pada saat praktikum

d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi beberapa bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein
3. Siswa menyebutkan kandungan nutrisi dari beberapa bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein
4. Siswa menentukan kualitas dari beberapa bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein
5. Siswa menyimpulkan kriteria bahan pakan sumber energi dan sumber protein

e. Identifikasi Pakan Ternak Asal Limbah Pabrik
Pakan ternak asal limbah pabrik dapat dibedakan menjadi dua yaitu berupa pakan sumber energi dan pakan sumber protein. Pakan sumber energi dari limbah pabrik seperti tetes, ampas tahu dan bostel bir.
Bahan Pakan Sumber Energi
Molases
Tetes atau molases merupakan hasil ikutan pabrik gula tebu. Tetes mengandung monosakarida dan disakarida sehingga mudah dicerna oleh ternak tetapi mengandung protein yang rendah. Kandungan gulanya yang tinggi dapat meningkatkan palatabilitas ransum.
Ampas Tahu
Ampas tahu merupakan hasil ikutan pembuatan tahu dengan bahan baku kedelei. Sebagian besar dari bagian ampas tahu adalah air ± 80 % karena pada proses pembuatan tahu, kedelei direndam dalam air. Untuk menurunkan kadar airnya dapat ditambah bahan pakan lain seperti dedak padi. Ampas tahu memiliki energi dan protein yang cukup tinggi.
Ampas Bir
Ampas bir dapat diberikan pada keadaan segar/ basah, tetapi dapat pula diawetkan dan menghasilkan kadar gula yang tinggi sehingga daya cernanya tinggi. Ampas bir banyak digunakan pada ransum babi dan sapi tetapi palatabilitas rendah karena rasanya yang pahit.

Bahan Pakan Sumber Protein
Bahan pakan asal limbah pabrik yang termasuk sumber protein banyak berasal dari bahan bungkil-bungkilan seperti bungkil kedelei, bungkil kacang tanah, bungkil kelapa, bungkil kecipir, bungkil karet, bungkil biji kapas dan bungkil biji kapuk.
Bungkil Kedele
Bungkil kedelei merupakan hasil samping kedelei yang telah diambil minyaknya. Kandungan asam amino cukup tinggi kecuali metionin sehingga bungkil kedelei menjadi bahan pakan sumber protein yang terbaik setelah tepung ikan. Energi metabolis yang dikandung bungkil kedele berkisar antara 2825 kkal hingga 2890 kkal yang baik digunakan sebagai sumber energi pendamping jagung.
Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa merupakan bahan pakan yang baik karena mudah dicerna dan dianjurkan untuk ternak penghasil susu karena dapat meningkatkan kadar lemak susu. Hal tersebut disebabkan kandungan minyak yang masih tersisa dalam produk. Karena kandungan minyak tersebut bungkil kelapa mudah tengik dan berjamur sehingga perlu diatur penanganan selama penyimpanan bahan pakan. Penggunaan bungkil kelapa untuk unggas akan dibatasi dengan rendahnya kandungan lisin dan metionin.

Tabel 4. kandungan nutrisi bahan pakan ternak asal limbah pabrik
No Bahan Pakan Kandungan nutrisi (%)
Protein kasar Serat kasar TDN
1 Ampas tahu 23.70 23.60 78.00
2 tetes 5.40 10.00 53.00
3 Bostel bir kering 25.00 19.20 65.00
4 Bungkil kedele 48.00 6.200 78.00
5 Bungkil kelapa 18.60 10.40 -

Lembar Kerja V
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis

b. Bahan-bahan
1. Dedak halus
2. Dedak kasar
3. Dedak jagung
c. Langkah Kerja
1. Mengamati dedak halus, dedak kasar, bekatul dan dedak jagung dengan cara melihat bentuknya (tekstur, warna dan bau)
2. Mengidentifikasi bahan pakan yang ada dan mencari asal dihasilkannya bahan pakan tersebut dan kandungan nutrisinya
3. Buat laporan hasil pengamatan pada bahan pakan yang telah diamati pada saat praktikum
d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi kandungan nutrisi dedak halus, dedak kasar, bekatul dan dedak jagung
2. Siswa menentukan kualitas dari dedak halus, dedak kasar, bekatul dan dedak jagung serta penggunaannya pada jenis ternak.
3. Siswa menyimpulkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing bahan pakan

f. Identifikasi Pakan Jadi
Pakan Konsetrat pada Unggas
Pada umumnya pakan jadi ternak sudah mengandung nutrisi yang lengkap untuk ternak. Pakan jadi memiliki bentuk yang bermacam-macam seperti bentuk tepung (all mash), pellet dan crumble (butiran pecah).
1) Mash (tepung) adalah suatu bahan atau campuran bahan yang bentuknya tepung. Pembuatan tepung ini dilakukan secara mekanis yaitu dengan cara dihancurkan dengan alat penghancur. Ukuran partikel dapat disesuaikan dengan menggunakan saringan. keuntungannya mudah dicampur, biaya pembuatan paling murah, tetapi kerugiannya pakan mudah tercecer sehingga Feed Convertion Ration menjadi tinggi
2) Pellet (pelet) adalah bentuk masa bahan-bahan pakan, konsentrat atau ransum yang dibentuk dengan menekan dan memadatkannya melalui lubang cetakan secara mekanis. Pakan bentuk pellet merupakan pakan yang disukai unggas dan lebih efisien pemberiannya ke unggas tetapi biaya pembuatan pakan pellet lebih mahal daripada bentuk tepung
3) Crumbles adalah bahan, suatu campuran bahan atau ransum yang dipellet ukurannya dikurangi dengan menggunakan gilingan dengan ukuran yang partikel yang diinginkan.
Pakan unggas dikelompokkan pada fase pertumbuhannya meliputi ayam pedaging fase stater dan finisher, ayam petelur fase stater, fase grower dan fase layer. Berikut kebutuhan protein pakan berbagai unggas
.
Tabel .6 Kebutuhan protein ternak unggas
NO JENIS UNGGAS KEBUTUHAN NUTRISI (%)
protein lemak Serat kasar Ca P
1 Ayam pedaging stater (0-4 mg) 22-23 5,5-8 2-5 1 0.5-0.7
2 Ayam pedaging finisher (4 mg) 20-21 5,5-8,5 4-5 1 0,4-0,5
3 Ayam petelur stater 20-21 2,5 4 1 0,7-0,9
4 Ayam petelur grower 14-15 2,5 4,5 1 0,7-0,9
5 Ayam petelur layer 16-18 2,5 4,5 1 0,7-0,9

gambar 2. pakan jadi bentuk mash, pelet dan crumble



Pakan Konsentrat pada Ruminansia
Pakan jadi untuk ternak sapi biasanya berupa konsentrat, terbuat dari produk yang dihasilkan pabrik pakan, Konsentrat ini dibuat dari dua atau lebih bahan hasil ikutan pabrik, limbah pabrik atau produk pabrik. Kandungan proteinnya biasanya berkisar 14 sampai 17% dengan kandungan TDN 65 sampai 70%, dilengkapi dengan vitamin dan mineral. Konsentrat ini biasanya diberikan sebagai pakan tambahan setelah diberi sapi diberi rumput.
Pakan sapi pada umumnya berbentuk tepung dan cubes (kubus) yaitu bahan atau campuran bahan pakan yang dicetak secara mekanis dengan mesin pengepres dengan bentuk menyerupai kubus. Bentuk ini biasanya hijauan (kering) yang telah dipotong-potong atau campuran hijauan potongan hijauan kering dengan konsentrat bentuk mash yang sering disebut complete feed (makanan komplit).

Lembar Kerja VI
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis

b. Bahan-bahan
1. Pakan unggas bentuk pelet, crumble dan mash
2. Pakan konsentrat sapi

c. Langkah Kerja
1. Lakukan pengamatan dengan cara melihat bentuk dari masing-masing pakan
4. Mengidentifikasi pakan berdasarkan bentuk fisik dan kegunaannya untuk ternak
5. Buat laporan hasil pengamatan pada berbagai pakan yang telah diamati pada saat praktikum

d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi pakan bentuk mash, pellet dan crumble
3. Siswa menyebutkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing bentuk pakan jadi
4. Siswa menyimpulkan kegunaan masing-masing bentuk pakan jadi dan kebutuhan protein dari ternak tersebut

g. Identifikasi Pakan Ternak Asal Hewan
Pakan ternak asal hewan merupakan pakan sumber protein yang essensial untuk ternak non ruminansia karena kemampuan memberikan asam amino yang tidak dapat disintesis oleh ternak. Salah satu pakan asal hewan antara lain ; tepung ikan, tepung darah, tepung daging, limbah ternak unggas, dsb.

Tepung Ikan
Tepung ikan memiliki asam amino yang lengkap seperti glisin, leusin, isoleusin, lisin, valin, dan arginin. Kualitas tepung ikan dipengaruhi oleh jenis ikan, asal ikan dan proses pembuatan tepung ikan. Penggunaan tepung ikan pada ternak dibatasi karena faktor palatabilitas yang rendah yaitu baunya yang tidak disukai ternak maupun efeknya pada produk yang dihasilkan.

Tepung Darah
Tepung darah merupakan limbah dari pemotongan hewan. Kadar protein cukup tinggi kecuali isoleusin tetapi palatabilitasnya rendah karena rasanya yang pahit.

Tepung Daging
Tepung daging dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu ;
 Meat meal, bahan bakunya keseluruhan daging
 Meat and bone meal, bahan baku berupa tulang dan daging
 Meat scraps, bahan baku tetelan daging
 Died animal tankage, bahan baku hewan mati

Hasil Ikutan Limbah Ternak Unggas

Limbah ternak unggas berupa bulu unggas, kerabang telur sisa karkas dan manure. Limbah unggas selain pakan sumber portein juga merupakan sumber mineral yang banyak terdapat pada bulu unggas dan kerabang telur. Penggunaan bulu unggas sebagai pakan ternak harus diperhatikan karena adanya faktor penghambat yang dapat menyebabkan penurunan produksi unggas. Oleh karena itu penggunaan bulu unggas dibatasi 3 % dalam total ransum.
Kerabang telur merupakan hasil samping dari Hatchery yang mengandung protein, vitamin dan mineral yang baik bila dikombinasikan dengan tepung ikan dapat mengurangi pemakaian tepung ikan.
Manure merupakan feses unggas yang bercampur urine. Kandungan protein cukup tinggi 28 % tetapi serat kasar 14 % yang merupakan batasan penggunaan pada ternak unggas. Kualitas manure ini dipengaruhi oleh sumber manure sendiri berasal dari kandang sistem litter atau cage, kesehatan ayam dan pengolahan manure.
Tabel 7. kandungan protein kasar dari berbagai pakan ternak asal hewan
no Nama bahan pakan Protein kasar (%)
1 Tuna 62
2 Tepung darah 76
3 Tepung daging 58
4 Tepung daging dan tulang 47
5 Tepung bulu 82
Lembar Kerja VII
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis
b. Bahan-bahan
1. Tepung darah
2. Tepung daging
3. Tepung ikan
4. Manure
c. Langkah Kerja
1. Lakukan pengamatan dengan cara melihat karakteristik dari masing-masing bahan pakan (tekstur, warna dan bau)
4. Mengidentifikasi pakan berdasarkan karakteristik bahan pakan, kandungan nutrisinya dan kegunaannya untuk ternak
5. Buat laporan hasil pengamatan pada berbagai pakan yang telah diamati pada saat praktikum
d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi kandungan nutrisi tepung darah, tepung daging, tepung ikan, dan manure
3. Siswa menyebutkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing bahan pakan dan batasan penggunaanya dalam ransum.
4. Siswa menyimpulkan kualitas dari masing-masing bahan pakan

h. Identifikasi Awetan Hijauan dan Olahan Jerami
Awetan hijauan dan olahan jerami yang biasa digunakan adalah silase dan perlakuan jerami.
Silase
Silase hijauan biasanya dilaksanakan pada musim penghujan saat hijauan melimpah. Silase hijauan adalah proses fermentasi pakan segar pada kelembapan tinggi dan kondisi anaerob yaitu pada suhu 40-50 o C dan pH 3,9-4,2. Prinsip utama pembuatan silase adalah menghentikan pernapasan dan penguapan sel tanaman, mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara dan menahan aktifitas enzim dan bakteri pembusuk.
Kualitas nutrisi dari silase ditentukan oleh fase pertumbuhan hijauan pada saat dipotong dan tipe fermentasi. Bahan silase cukup ditekan untuk membatasi kehilangan karbohidrat oleh pernapasan. Bakteri an aerob akan mengubah karbohidrat menjadi asam laktat dan asam asetat. Jika bahan silase berupa batang dengan penekanan yang kurang sempurna menyebabkan pernapasan berlebihan dan terlalu panas, dengan kehilangan bahan kering yang tinggi dan menurunkan daya cerna protein serta menurunkan karoten bahan pakan. Tetapi jika penekanan terlalu berlebihan terutama pada bahan silase yang banyak mengandung air maka pemanasan saat fermentasi berkurang sehingga menghasilkan bau busuk dan tidak disukai ternak.
Kriteria silase yang baik :
 Baik sekali ; bersih, bau asam (tidak pahit & tajam) tidak busuk, rasa enak, tidak berjamur, tidak berlendir, dan tidak berlumut, pH 3.5- 4.2, warna hijau/kecoklatan, tekstur jelas, N amonia10 % dari N total dalam silase
 Baik ; bau dan rasa asam, pH 4.2-4.5, warna hijau, tekstur kurang jelas, N amonia 10-25 % dari N total dalam silase
 Sedang ; bau agak tengik, pH 4.5-4.8, warna kuning, tekstur kurang jelas, terdapat jamur, N amonia 10- 20 % dari N total dalam silase
 Jelek ; bau busuk, pH 4.8-7, warna coklat tua, tekstur rusak, banyak jamur dan berlendir,N amonia 20 % dari N total dalam silase

Olahan Jerami
Perlakuan pada jerami bertujuan untuk meningkatkan nilai gizinya. Perlakuan jerami secara fisik dapat dengan cara pemotongan, penggilingan, pemanasan dan tekanan. Perlakuan secara kimia menggunakan urea, sodium hidroksida atau amonium hidroksida. Perlakuan secara biologis menggunakan enzim dan jamur.

1) Hay
Hay adalah hijauan pakan berupa rumput-rumputan, leguminosa, daun-daunan, limbah pertanian yang sengaja dipanen umur muda untuk dikeringkan agar dapat disimpan lama guna persediaan pakan saat kekurangan pakan hijauan. Prinsip pembuatan hay adalah menurunkan kadar air dalam waktu singkat dari 65 -80 % menjadi 15-25 % melalui proses pengeringan dengan sedikit penurunan nilai gizi.
Kualitas hay ditentukan oleh ; umur potong, cara penanganan, kadar air dan kondisi iklim selama pemotongan. Proses pengeringan hay harus cepat agar tidak diikuti kenaikan suhu yang terlalu tinggi, sehingga perubahan komposisi kimiawi menjadi kecil. Kadar vitamin A dalam hay yang baik tidak banyak hilang. Dalam timbunan hay akan terjadi fermentasi dalam jumlah kecil yang dapat menurunkan kadar zat karbohidrat, lemak, protein dan provitamin A.
Kriteria hay yang baik antara lain ;
 Warna hijau cerah/ terang, provitamin A/ karoten tinggi dan palatabilitas tinggi
 Cukup mengandung daun, protein kasar tinggi, mineral, vitamin tinggi
 Batang kecil dan lentur/ lunak, tidak kasar dan berkayu
 Bau harum, khas bau hay
 Tekstur halus dan tidak remah
 Kecernaan tinggi
 Bersih, bebas dari debu dan jamur


2) Amoniasi
Amoniasi adalah proses perlakuan bahan pakan jerami dengan cara menambahkan bahan kimia berupa kaustik soda (NaOH), sodium hidroksida (KOH), atau urea (CO(NH2)2). Prinsip amoniasi proses dasar adalah reaksi kimia yang merenggangkan ikatan serat kasar pada jerami sekaligus mensuplai nitrogen untuk mikroba rumen yang kelanjutannya mampu meningkatkan protein untuk ternak.
Kriteria jerami amoniasi yang baik antara lain; warna amoniasi, bau tidak menyengat, tidak berlendir dan berjamur. Jerami amoniasi diberikan ke ternak setelah diangin-anginkan terlebih dahulu dan diberikan beserta pakan sumber energi. Perbandingan pemberian pakan sumber energi dengan jerami amoniasi 70:30.

Tabel 8. Kandungan nutrisi silase rumput gajah dan berbagai olahan jerami
no Nama bahan Protein Kasar (%)
1 Hay Rye grass 2,99
2 Jerami padi amoniasi 9,92
3 Silase rumput gajah 1,30

Lembar Kerja VIII
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis

b. Bahan-bahan
1. Silase rumput gajah
2. Hay
3. jerami amoniasi
c. Langkah Kerja
1. Mengamati Silase rumput gajah, Hay, jerami amoniasi dengan cara melihat bentuknya (tekstur, warna, bau dan ciri khas dari masing-masing pakan)
2. Menentukan kualitas dari Silase rumput gajah, Hay dan jerami amoniasi melalui tahap uji organoleptik (warna, tekstur, bau dan kondisi fisik bahan pakan), mengukur tingkat pH dari tiap pakan
3. Buat laporan hasil pengamatan pada Silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi yang telah diamati pada saat praktikum
d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi kualitas Silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
3. Siswa menentukan kriteria kualitas silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
4. Siswa menentukan waktu pembuatan dan penggunaan pakan silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
5. Siswa menyimpulkan kualitas dari silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi berdasarkan kandungan nutrisinya dan tujuan pembuatan dan penggunaan silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
6. Buat tabel pembeda antara hay, amoniasi dan silase !

i. Identifikasi Pakan Tambahan
Pakan tembahan atau feed addive adalah suatu senyawa atau bahan yang bukan merupakan zat makanan yang ditambahkan ke dalam ransum atau diberikan ke ternak dengan tujuan untuk memacu pertumbuhan, meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi maupun memperbaiki efisiensi penggunaan makanan.
Pakan tembahan atau feed additive dapat digolongkan menjadi :
1) Tambahan untuk meningkatkan seleksi dan konsumsi pakan, contoh pellet binder dan flavour agent
2) Tambahan untuk membantu proses pencernaan dan aborbsi zat makanan, contoh antibiotik dan enzim
3) Tambahan untuk meningkatkan metabolisme, contoh hormon
4) Tambahan untuk menjaga kesehatan ternak, contoh anti oksidan, coccidiostat
5) Tambahan untuk memperbaiki kualitas produksi, contoh xantophyl dan oxytetracyclin.
1) Tambahan untuk meningkatkan seleksi dan konsumsi pakan
Bentuk, rasa, warna maupun aroma merupakan faktor yang mempengaruhi palatabilitas ransum, yang berhubungan dengan konsumsi makanan. Beberapa perlakuan berikut ini mampu memperbaiki rasa, aroma atau merubah bentuk ransum sehingga meningkatkan palatabilitas ransum.
Pellet binder bertujuan memperbaiki ketahanan pellet dan meningkatkan efisiensi penggunaan makanan. Pemakaian perekat pellet sebaiknya tidak lebih dari 0,25 % dari total ransum. Pellet binder dapat berupa bahan pakan yang mengandung pati seperti jagung, gandum atau preparat seperti selulosa esther.
flavour agent adalah bahan tambahan yang sengaja ditambahkan untuk memperbaiki rasa, aroma, atau warna sehinggga meningkatkan palatabilitas ransum seperti larutan sukrose dan tetes.
2) Tambahan untuk membantu proses pencernaan dan aborbsi zat makanan
Antibiotik adalah zat yang dibuat atau dihasilkan oleh organisme hidup yang dapat menghalangi atau merusak kehidupan organisme lain. Penggunaan antibiotik bertujuan untuk membantu pertumbuhan mikroorganisme yang mensintesis zat makanan dan menghalangi pertumbuhan mikroorganisme patogen sehingga penyerapan zat makanan meningkat. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan antibiotik adalah adanya timbunan (residu) antibiotik pada ternak yang berpengaruh pada manusia sehingga perlu adanya withdrawal-time.
Enzim ditambahkan ke dalam ransum untuk mempercepat proses pencernaan zat makanan sehhingga meningkatkan efisiensi ransum. Contoh enzim yang sering digunakan adalah protease dan amilum.

3) Tambahan untuk meningkatkan metabolisme
Hormon sintetik sering dipakai untuk memacu pertumbuhan ternak seperti estrogen digunakan untuk penimbunan lemak dan memperlunak daging. Tetapi penggunaan hormon sekarang tidak diperkenankan dengan memperhatikan efek residu hormon dan kemungkinan bersifat karsinogenik.

4) Tambahan untuk menjaga kesehatan ternak
Anti oksidan diberikan dalam ransum bertujuan untuk mencegah proses oksidasi pakan akibat panas, sinar maupun efek dari bahan kimia. Salah sati anti oksidan yang biasa dipakai adalah vitamin. Coccidiostat digunakan untuk mengontrol coccidial infectious yang disebabkan coccidia.

5) Tambahan untuk memperbaiki kualitas produksi
Xantophyl merupakan pigmen kuning yang mempengaruhi warna produk daging dan kuning telur. Sedangkan oxytetracyclin digunakan untuk memperbaiki tekstur dan kualitas kulit telur.

Lembar Kerja IX
a. Alat :
1. Papan tulis
2. Kapur
3. Kertas dan alat tulis
b. Bahan-bahan
1. Silase rumput gajah
2. Hay
3. jerami amoniasi
c. Langkah Kerja
1. Mengamati Silase rumput gajah, Hay, jerami amoniasi dengan cara melihat bentuknya (tekstur, warna, bau dan ciri khas dari masing-masing pakan)
2. Menentukan kualitas dari Silase rumput gajah, Hay dan jerami amoniasi melalui tahap uji organoleptik (warna, tekstur, bau dan kondisi fisik bahan pakan), mengukur tingkat pH dari tiap pakan
3. Buat laporan hasil pengamatan pada Silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi yang telah diamati pada saat praktikum
d. Lembar Latihan
1. Siswa mengidentifikasi kualitas Silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
3. Siswa menentukan kriteria kualitas silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
4. Siswa menentukan waktu pembuatan dan penggunaan pakan silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi
5. Siswa menyimpulkan kualitas dari silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi berdasarkan kandungan nutrisinya dan tujuan pembuatan dan penggunaan silase rumput gajah, Hay, dan jerami amoniasi

Lembar Evaluasi I

a. Pelaksanaan Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan cara test tertulis 10 menit setiap kali pertemuan untuk memacu siswa mau membaca materi yang sudah diberikan sebelumnya, test tertulis pertengahan dan akhir masa pembelajaran. Test keterampilan dilakukan di laboratorium dan laporan hasil praktek beserta tugas.

b. Hasil Evaluasi
Nilai hasil evaluasi merupakan gabungan keseluruhan test , praktikum dan laporan dengan proporsi yang berimbang.

c. Pertanyaan Untuk Evaluasi
1. Apa perbedaan rumput dan leguminosa ?
2. Bagaimanakah kualitas nutrisi rumput dan leguminosa?
3. Bagaimanakah spesifikasi ternak yang mengkonsumsi rumput dan leguminosa ?
4. Bagaimanakah kualitas pakan ternak asal limbah pertanian ?
5. Sebutkan masing-masing tiga bahan pakan ternak asal limbah pertanian tanaman pangan dan sayuran berdasarkan batasan penggunaanya ke ternak?
6. Bagaimanakah potensi dan kualitas pakan ternak asal tanaman pangan?
7. Sebutkan hambatan pemanfaatan pakan ternak asal tanaman pangan!
8. Bagaimanakah kualitas pakan ternak hasil ikutan pabrik penggilingan biji-bijian ?
9. Bagaimanakah spesifikasi ternak yang mengkonsumsi pakan ternak hasil ikutan pabrik penggilingan biji-bijian ?
10. Bagaimanakah potensi pakan ternak asal limbah pabrik berdasarkan kandungan nutrisi, ketersediaan dan secara ekonomis ?
11. Sebutkan bentuk pakan jadi berdasarkan spesifikasi pemberiannya ke ternak ?
12. Bagaimanakah kualitas pakan ternak asal hewan ?
13. Bagaimanakah pemanfaatan pakan ternak asal hewan berdasarkan faktor palatabilitas pakan ?
14. Apa yang dimaksud pakan tambahan dan jelaskan klasifikasinya?
15. Sebutkan kriteria identifikasi pakan ternak
Sumber Pustaka :
POSTED BY Bayu Nugraha Saputra ON 07.26.07 @ 3:09netfarm.blogsome.com/.../pemanfaatan-pakan-suplemen-urea-molasses-block-umb/ - Tembolok - Mirip.
Hartadi, H, dkk, 1986. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Kartasudjana, R. 2001. Pemilihan Bahan Pakan-Teknik Produksi Pakan Ternak. Departemen Pendidikan Nasional Proyek Pengembangan Sistem Dan Standar Pengelolaan SMK-Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta.

Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Budidaya Ayam Petelur (Gallus sp.) Bappenas.
Rasyaf, M, 2000. Bahan Makanan Unggas di Indonesia. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor- Kanisius. Jakarta.
Soetanto, H. 2003. Buku petunjuk Pakan dan Cara Pemberian ke Ternak. Diktat Kuliah Ruminansia-AMLC/APFINDO.
Susanto S, Andajani S, 1988. Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. NUFFIC-Universitas Brawijaya. Malang
Tillman, A, dkk. 1989. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Press. Jogyakarta.
Wahju, Juju, 1991. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada Press. Jogyakarta.


















ANALISA BAHAN PAKAN TERNAK

1. Standar Kompetensi : Siswa mampu melakukan analisis bahan pakan ternak untuk mengetahui kualitas bahan pakan ternak berdasarkan kandungan nutrisinya.
2. Kompetensi Dasar :
a. Fungsi Analisa Pakan
b. Identifikasi Peralatan Analisa Pakan Ternak
c. Pengambilan Sampel
d. Penanganan Sampel
e. Analisa Kadar Air
f. Analisa Kadar Abu
g. Analisa Kadar Lemak
h. Analisa Kadar Protein Kasar
i. Analisa Serat Kasar

A. Analisa Pakan Ternak
Zat gizi sangat diperlukan oleh hewan untuk pertumbuhan, produksi, reproduksi, dan hidup pokok. Makanan ternak berisi zat gizi untuk kebutuhan energi dan fungsi-fungsi di atas. Tetapi setiap ternak kandungan zat gizi yang dibutuhkannnya berbeda-beda. Suatu keuntungan bahwa zat gizi, selain mineral dan vitamin tidak sendiri-sendiri mempunyai sifat kimia. Zat sumber energi dapat digolongkan misalnya dari sumber karbohidrat yang mempunyai kandungan kimia karbon, hydrogen dan oksigen. Sedangkan protein terdiri dari asam amino dan berisi ± 16 % nitrogen.
Analisa mineral dimulai dengan membakar zat makanan (bahan kering) atau diabukan. Dengan pembakaran dapat dihilangkan zat-zat organik. Secara parktis nilai abu didapatkan dari perhitungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) .
Untuk mengetahui kualitas pakan ternak dapat melalui dua cara yaitu uji organoleptik dan analisa proksimat. Uji organoleptik merupakan suatu cara memprekdisi kualitas pakan ternak berdasarkan data fisik yang meliputi ; bentuk, warna, bau dan rasa. Uji organoleptik dapat menjadi salah satu indikator adanya pemalsuan bahan pakan. Pemalsuan bahan pakan ternak merupakan salah satu masalah yang umum terjadi di negara-negara berkembang. Bahan-bahan pemalsu diantaranya pasir halus, serbuk gergaji, dedak padi, grit, urea dan bahan-bahan lain yang berkualitas rendah dan harga murah. Pemalsuan bahan pakan ternak ini dapat mempengaruhi komposisi ransum yang dihasilkan.
Uji kualitas pakan ternak selanjutnya adalah analisa proksimat. Analisa proksimat dikembangkan dari Weende Experiment Station di Jerman oleh Hanneberg dan Stokman pada tahun 1865. Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan.
Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di dalamnya. Selain itu manfaat dari analisis proksimat adalah dasar untuk formulasi ransum dan bagian dari prosedur untuk uji kecernaan.
Penentuan analisis proksimat atau Weende analysis meliputi ;
1. Kadar air atau bahan kering (BK)
2. Protein kasar (PK)
3. Lemak kasar (LK)
4. Serat kasar (SK)
5. Bahan tanpa ekstrak nitrogen (BETN)
6. Abu/ mineral/ bahan orgnaik (BO)

B. Peralatan Analisa Bahan Pakan Ternak
No Nama Alat Fungsi Gambar
1 Destilasi Aquadest Untuk pemurnian aquadest



2 Pemanas Listrik Memanaskan sampel bahan pakan



3 Oven 105o C Untuk mengurangi kadar air udara
4 Ekstraksi Untuk mengambil filtrat/ endapan



5 Destilasi Pemurnian/ penyulingan untuk mengurangi reaksi alkali



6 Destruksi Mengubah N protein menjadi amonium sulfat
7 Titrasi Untuk penentuan nilai N

8 Timbangan digital Penentuan berat sampel



9 Beaker Glass Wadah berskala untuk sampel cair

10 Labu Destruksi Tempat oksidasi/ proses destruksi



11 Erlenmeyer Wadah pengenceran larutan

12 Pipet Untuk mengambil larutan

13 Pipet Balon Untuk mengambil larutan



14 Cuvet Tabung pengocok untuk mengendapkan sampel koloid



15 Labu Ukur untuk membuat larutan standar dengan volume tertentu misalnya 10, 25, 50 mL. Jangan gunakan beaker glass untuk membuat larutan standar sebab labu ukur lebih presisi

16 Gelas Ukur Wadah berskala untuk sampel cair



17 Cawan Porselen Wadah sampel bentuk serbuk


18 Corong Kecil Untuk memindah sampel
19 Kertas whatman No.42 Untuk menyaring residu/filtrat



20 Eksikator Mendinginkan sampel
21 Lemari asam Tempat penanganan sampel bahan asam kuat

22 Hammer mill Penggiling sampel menjadi serbuk dengan diameter tertentu




C. Prosedur Laboratorium
C. 1. Safety Laboratorium
1) Semua praktikan harus memakai jas laboratorium
2) Membaca petunjuk pratikum dengan baik
3) Menimbang dengan teliti dan membersihkan dan mengembalikan ke posisi semula
4) Berhati-hati dalam menuang reagensia dari botol dalam posisi miring dan tidak boleh meninggalkan tetesan reagen di luar botol
5) Untuk analisa kadar air pada tanur tidak boleh menaikkan suhu tinggi
6) Untuk mencampur larutan pekat dan air dengan mendahulukan asam pekat ke air jangan sebaliknya
7) Jangan mencampur asam pekat dan basa pekat
8) Jangan memasukkan KOH dan NaOH ke dalam air panas
9) Cawan, piala dan alat berbahan kaca yang masih panas tidak boleh diletakan di atas meja bercat atau porselen/ keramik tetapi diletakkan di atas kayu
10) Semua reagensia memiliki titer tersendiri dan harus di standarasi terlebih dahulu
11) Selesai analisa semua peralatan harus dicuci sampai bersih dan dikembalikan kepada petugas atau tempat yang telah disediakan
C. 2. Pengambilan Sampel
1) Aselektif, sampel diambil sejumlah bahan yang dapat dicampur sebaik mungkin (homogen) sehingga tidak ada pilihan terhadap suatu keadaan. Contoh; rumput dipotong 2-3 cm
2) Selektif, hanya mengambil bagian tertentu dari sampel yang ingin diketahui nilai nutrisinya. Contoh; mengambil sampel batang atau daun saja
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan sampel :
 Segregasi, efek berat bahan berpengaruh terhadap homogenitas bahan walaupun tercampur dengan baik bahan yang berat dan ringan akan terpisah
 Jumlah sampel tergantung pada nilai nutrisi apa yang akan diukur. Homogenitas bahan sampel hijauan 1-1,5 kg dan konsentrat 0,5-1 kg
 Sampel basah harus dikeringkan dan dimasukkan dalam kantong selanjutnya disimpan ditempat kering
 Untuk jerami amoniasi disimpan dalam freezer agar gas amonia tidak menguap
C. 3. Penanganan Sampel
1) Sampel yang datang di laboratorium harus segera ditimbang, baik yang masih segar maupun yang sudah kering
2) Sampel hijauan segar dikeringkan terlebih dahulu dalam oven 105o C pada suhu 60o-70o C selama 24 jam. Setelah dingin ditimbang lagi untuk mengetahui kering udara
3) Sampel buah dan biji-bijian yang memiliki kulit dikupas terlebih dahulu kemudian ditimbang dan dikeringkan
4) Sampel konsentrat yang sudah kering dan halus langsung ditimbang
5) Semua bahan yang akan dianalisis harus dihaluskan dengan digiling dan disaring dengan saring Ø 1 mm
6) Semua bahan yang akan dianalisis diberi kode dan arti kode tersebut harus dicatat di buku khusus

D. Analisa Kadar Air
D.1.Prinsip
Menguapkan air yang terdapat dalam bahan dengan oven dengan suhu 100°-105°C dalam jangka waktu tertentu (3-24 jam) hingga seluruh air yang terdapat dalam bahan menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi.

D. 2. Alat dan Bahan
 Oven listrik
 Timbangan analitik/ digital
 Cawan aluminium
 Eksikator
 Tang penjepit
D. 3. Prosedur
1) Keringkan cawan aluminium dalam oven selama 1 jam pada suhu 100°-105°C
2) Kemudian dinginkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang beratnya (catat sebagai X gram)
3) Tambahkan ke dalam cawan aluminium tersebut sejumlah sample/bahan lebih kurang 2-5 gram, timbang dengan teliti. Dengan demikian berat bahan/sample dapat diketahui dengan tepat (catat sebagai Y gram). Bila menggunakan timbangan analitik digital maka dapat diketahui berat sampelnya dengan menset zero balans, yaitu setelah berat aluminium diketahui beratnya dan telah dicatat, kemudian dizerokan sehingga penunjuk angka menjadi nol, lalu sampel langsung dimasukkan ke dalam cawan dan kemudian timbang beratnya dan catat sebagai Z gram.
4) Masukkan cawan+sampel ke dalam oven selama 3 jam pada suhu 100°-105°C sehingga seluruh air menguap. (Atau dapat pula dimasukkan dalam oven dengan suhu 60°C selam 48 jam)
5) Masukkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang. Ulangi pekerjaan ini dari tahap no 4 dan 5, sampai beratnya tidak berubah lagi. Catat sebagai Y gram.
6) Setiap kali memindahkan cawan aluminium baik berisi sampel atau tidak gunakan tang penjepit.

E. Anlisa Kadar Abu
E. 1. Prinsip
Membakar bahan dalam tanur (furnace) dengan suhu 600°C selama 3-8 jam sehingga seluruh unsur pertama pembentuk senyawa organik (C,H,O,N) habis terbakar dan berubah menjadi gas. Sisanya yang tidak terbakar adalah abu yang merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang terdapat dalam bahan. Dengan perkataan lain, abu merupakan total mineral dalam bahan.

Kadar bahan organik dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut :
Bahan Organik (BO) = ( Bahan Kering (BK) – Abu ) %
E. 2. Alat dan Bahan
 Cawan porselen 30 mL
 Pembakar bunsen atau hot plate
 Tanur listrik
 Eksikator
 Tang penjepit

E. 3. Prosedur
1) Keringkan cawan porselen ke dalam oven selama 1 jam pada suhu 100°-105°C.
2) Dinginkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang, catat sebagai X gram
3) Masukkan sejumlah sampel kering oven 2-5 gram ke dalam cawan, catat sebagai Y gram
4) Panaskan dengan hot plate atau pembakar bunsen sampai tidak berasap lagi
5) Masukkan ke dalam tanur listrik dengan temperatur 600-700°C, biarkan beberapa lama sampai bahan berubah menjadi abu putih betul. Lama pembakaran sekitar 3-6 jam
6) Dinginkan dalam eksikator kurang lebih 30 menit dan timbang dengan teliti, catat sebagai Z gram
7) Hitung kadar abunya!

F. Ekstraksi Lemak
F. 1. Prinsip
Melarutkan (ekstraksi) lemak yang terdapat dalam bahan dengan pelaut lemak (ether) selama 3-8 jam. Ekstraksi menggunakan alat sokhlet. Beberapa pelarut yang dapat digunakan adalah kloroform, heksana, dan aseton. Lemak yang terekstraksi (larut dalm pelarut) terakumulasi dalam wadah pelarut (labu sokhlet) kemudian dipisahkan dari pelarutnya dengan cara dipanaskan dalam oven suhu 105°C. Pelarut akan menguap sedangkan lemak tidak (titik didih lemak lebih besar dari 105°C, sehingga tidak menguap dan tinggal di dalam wadah). Lemak yang tinggal dalam wadah ditentukan beratnya.
Lemak kasar (%) =
F. 2. Alat dan Bahan
Alat
 Satu set alat sokhlet
 Kertas saring bebas lemak
 Kapas dan biji hekter
 Eksikator
 Timbangan analitik
Bahan (zat kimia) : Kloroform


F. 3. Prosedur
1) Siapkan kertas saring yang telah kering oven (gunakan kertas saring bebas lemak)
2) Buatlah selongsong penyaring yang dibuat dari kertas saring, timbang dan catat beratnya sebagai A gram. Masukkan sampel sekitar 2-5 gram dalam selongsong kemudian timbang dan catat beratnya sebagai B gram. Tutup dengan kapas kemudian dihekter, lalu timbang dan catat beratnya sebagai C gram. Berat sampel = (B-A) gram
3) Selongsong penyaring berisi sampel dimasukkan ke dalam alat soxhlet. Masukan pelarut lemak (Klorofom) sebanyak 100-200 mL ke dalam labu didihnya. Lakukan ekstraksi (nyalakan pemanas hot plate dan alirkan air pada bagian kondensornya).
4) Ekstrasi dilakukan selama lebih kurang 6 jam. Ambil selongsong yang berisi sampel yang telah diekstrasi dan keringkan di dalam oven selama 1 jam pada suhu 1050 . kemudian masukan ke dalam eksikator 15 menit dan kemudian timbang dan catat beratnya sebagai D gram.
5) Kloroform yang terdapat dalam labu didih, didestilasi sehingga tertampung di penampungan sokhlet. Kloroform yang tertampung disimpan untuk digunakan kembali.

G. Protein Kasar
G. 1. Prinsip
Penetapan nilai protein kasar dilakukan secara tidak langsung, karena analisis ini didasarkan pada penentuan kadar nitrogen yang terdapat dalam bahan. Kandungan nitrogen yang diperoleh dikalikan dengan angka 6,25 sebagai angka konversi menjadi nilai protein. Nilai 6,25 diperoleh dari asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen (perbandingan protein : nitrogen =100 :16 = 6,25:1). Penentuan nitrogen dalam analisis ini melalui tiga tahapan analis kimia:
Destruksi
Yaitu menghancurkan bahan menjadi komponen sederhana, sehingga nitrogen dalam bahan terurai dari ikatan organiknya. Nitrogen yang terpisah diikat oleh H2SO4 menjadi (NH4)2SO4.
Destilasi
Pengikatan komponen organik tidak hanya kepada nitrogen saja, tetapi juga terhadap komponen lain, oleh karena itu nitrogen harus diisolasi. Untuk melepaskan nitrogen dalam larutan hasil destruksi adalah dengan membentuk gas NH3. Pemberian NaOH 40% akan merubah (NH4)2SO4 menjadi NH4OH. NH4OH bila dipanaskan akan berubah menjadi gas NH3 dan air, yang kemudian dikondensasi. NH3 akhirnya ditangkap oleh larutan asam borat 5% membentuk (NH4)3BO3. Nitrogen dalam (NH4)3BO3 ditentukan jumlahnya dengan cara dititrasi dengan HCl.
G. 2. .Alat dan Bahan
Alat :
 Labu Kjeldahl 300 mL
 Satu set alat estilasi
 Erlenmeyer 250 cc
 Buret 50 cc skala 0,1 mL
 Timbangan analitik
Bahan ( zat kimia)
 Asam Sulfat pekat
 Asam Chorida ( yang sudah diketahui normalitasnya)
 Natrium Hydroxsida 40%
 Katalis campuran (yang dibuat dari CuSO4.5H2O dan K2SO4 dengan perbandingan 1:5
 Asam borax 5%
 Indikator campuran ( brom cresolgreen : Methyl merah = 4 : 5. sebanyak 0,9 gram campuran dilarutkan dalam alkohol 100 mL)
G. 3. Prosedur
Destruksi
1) Timbang contoh sampel kering oven sebanyak ± 1 gram ( catat sebagai A gram).
2) Masukan ke dalam labu kjeldhal dengan hati-hati, dan tambahkan 6 gram katalis campuran.
3) Tambah 20 mL Asam Sulfat pekat. Panaskan dalam nyala api kecil di lemari asam. Bila sudah tidak berbuih lagi destruksi diteruskan dengan nyala api yang besar.
4) Destruksi sudah di anggap selesai bila larutan sudah berwarna hijau jernih, setelah itu dinginkan.
Destilasi
1) Siapkan alat destilasi selengkapnya, pasang dengan hati-hati jangan lupa batu didih, vaselin dan tali pengaman
2) Pindahkan larutan hasil destruksi ke dalam labu didih, kemudian bilas dengan aquades sebanyak lebih kurang 50 mL.
3) Pasangkan erlenmeyer yang telah diisi asam borax 5% sebanyak 5 mL untuk menangkap gas amonia, dan telah diberi indikator campuran sebanyak 2 tetes.
Basakan larutan bahan dari destruksi dengan menambah 40-60 mL NaOH 40% melalui corong samping. Tutup kran corong segera setelah larutan tersebut masuk ke labu didih
4) Nyalakan pemanas bonsen dan alirkan air ke dalam kran pendingin tegak. Lakukan destilasi sampai semua N dalam larutan dianggap telah tertangkap oleh asam borax yang ditandai dengan menyusutnya larutan dalam labu didih sebanyak 2/3 bagian (atau sekurang-kurangnya sudah tertampung dalam erlenmeyer sebanyak 15 mL
Titrasi
1) Erlenmeyer berisi sulingan tadi diambil (jangan lpa membilas bagian yang terendam dalam air sulingan)
2) Kemudian titrasi dengan HCl yang sudah diketahui normalitasnya catat sebagai B, titik titrasi dicapai dengan ditandai perubahan warna hijau ke abu-abu. Catat jumlah larutan HCl yang terpakai sebagai C mL

H. Kadar serat kasar
H. 1. Prinsip
Serat kasar adalah semua zat-zat organik yang tidak dapat larut dalam H2SO4 0.3 N dan dalam NaOH 1.5 N yang berturut-turut dipanaskan selama 30 menit. Serat kasar terdiri dari sellulosa, hemisellulosa, lignin dan silika serta sebagian pentosan-pentosan.
H. 2. Cara Kerja
1) Sampel ditimbang seberat 1 gram (x) dan dimasukkan ke dalam gelas piala 500 ml. Sampel ditambahkan 50 ml H2SO4 0.3 N dan dipanaskan hingga mendidih selama 30 menit.
2) Setelah itu ke dalam gelas piala ditambahkan pula 25 ml NaOH 1.5 N dan terus dididihkan kembali selama 30 menit kedua. Waktu pendidihan diperhatikan agar api tidak terlalu besar dan cairan tidak meluap dan tumpah.
3) Sebuah kertas saring ditimbang seberat ( a ) gram.
4) Cairan tersebut disaring dengan menggunakan kertas saring yang sudah ditimbang sebelumnya dan dilakukan penyaringan dengan menggunakan corong Buchner. Proses penyaringan berturut-turut dicuci dengan : 50 ml air panas; 50 ml H2SO4 0.3 N; 50 ml air panas ; 25 ml Aceton
5) Kertas saring dan isinya dimasukkan ke dalam cawan porselin dan dikeringkan di dalam oven dengan suhu 105°C.
6) Kertas saring dan isisnya yang telah dikerngkan didinginkan dalam eksikator selama 1 jam dan timbang ( y ) gram.
7) Setelah itu kertas saring dan isinya dipijarkan di dalam tanur sampai menjadi putih dan dinginkan kembali serta timbang ( z ) gram. Adapun rumus penentuan kadar serat kasar sebagai berikut: